Kamis, 05 Mei 2016

Pemikiran Wilhelm Dilthey

CHAPTER I
INTRODUCTION
A.    Latar Belakang
Wilhelm Dilthey dikenal sebagai sosok pemikir berkebangsaan Jerman yang kritis terhadap situasi intelektual jamannya. Pada abad 19, ilmu-ilmu alam menguasai wilayah intelektual Jerman dan Dilthey hadir sebagai sosok yang mengangkat problematika mengenai ilmu alam sebagai bukan satu-satunya ilmu untuk menjelaskan segala hal mengenai kehidupan. Ada ilmu lain yang berbeda dengan ilmu alam namun harus diberi tempat layak berdampingan dengan ilmu alam, yakni ilmu kemanusiaan.
 Pemikiran Dilthey mengenai ilmu kemanusiaan ini merupakan salah satu dasar untuk memperkuat tema filosofis yang digelutinya, yang terkait erat dengan sejarah. Baginya, sejarah merupakan kunci memahami kehidupan manusia. Fokus penulisan filosofis Dilthey sendiri, sejak tahun 1864 hingga kematiaannya pada tahun 1911, adalah penulisan karya kritik terhadap Rasio Historis.
Dilthey dapat disebut sebagai figur filsuf yang sangat menekankan aspek sejarah sebagai topik utama filsafatnya. Banyak pemikir yang mempengaruhi cara berpikir Dilthey, salah satunya adalah Rickert. Dari Rickert.Pemahan Dilthey muncul dari realitas fundamental dimana ada interaksi kesatuan diri manusia (pikiran-tubuh) dengan lingkungan fisik dan sosial manusia. Dengan demikian, kehidupan,  pengetahuan, aktivitas dan kontemplasi secara keseluruhan terikat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Struktur kompleks dari pemikiran dan tindakan ini haruslah menjadi dasar dari filsafat mengingat realitas merupakan proses interaksi keduanya. Inilah yang disebut Dilthey sebagai filsafat kehidupan.
Kehidupan atau kata “hidup” dipakai Dilthey untuk merujuk pada kehidupan manusia, yakni kehidupan umat manusia dengan pencapaian historisitasnya dan sedikit relasi terhadap bentuk- bentuk biologis kehidupan manusia[1]

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana Riwyat Hidup Seorang Wilhelm Dilthey?
2.      Apa Saja Pokok Pemikiran Wilhelm Dilthey?
3.      Bagaimana Proses Hermeneutika Wilhelm Dilthey?
C.    TUJUAN MAKALAH
1.      Untuk mengetahui riwayat hidup Wilhelm Dilthey
2.      Untuk mengetahui pokok pemikiran Wilhelm Dilthey
3.      Untuk mengetahui kritik atas pemikiran Wilhelm Dilthey



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Singkat Kehidupan Wilhelm Dilthey
Wilhelm Dilthey lahir di Biebrich pada tanggal 19 November 1833. Ayahnya adalah seorang pendeta Gereja Reformasi. Setelah lulus sekolah grammer di wiesbaden, Dilthey meneruskan pendidikan Theologi di Heidelberg selama setahun. Ketika kuliah di Heidelberg, ia dibimbing oleh Kuno Fischer. Kemudian ia pindah ke Universitas Berlin dan selama disana Dilthey dibimbing oleh Adolf Trendelenburg.
Pada awalnya Dilthey berminat untuk menjadi seorang pendeta. Akan tetapi kemudian ia terpengaruh oleh sejarawan ulung seperti Jacob Grimm dan Leopold Von Ranke dan mengalihkan minatnya kepada filsafat dan sejarah. Pada tahun 1864 Dilthey memperoleh gelar doktornya dan kemudian menjabat sebagai Profesor Filsafat di Basel pada tahun 1867, di Kiel pada tahun 1868-1870 dan di Breslau pada tahun 1981. Kemudian ia kembali ke Berlin untuk menggantikan Herman Lotze pada tahun 1882-1905. Pada tanggal 1 Oktober 1911 Dilthey wafat di Seis.
Sebagai seorang filsuf, Dilthey sangat berminat pada logika dan metodologi sejarah serta masyarakat. Ia termasuk pelopor filsafat yang anti intelektualis, mempertahankan ilmu-ilmu kebudayaan atau humaniora sebgai ilmu-ilmu yang tidak bergantung pada ilmu-ilmu alam atau realita. Selain sebagai filsuf dan sejarawan, ia juga terkenal sebagai penulis biografi dan kritisi sastra.[2]
Adapun karya-karyanya yang dicetak pada masa hidupnya antara lain. Das Leben Schleiermachers (Kehidupan Schleiermacher), 1870. Einlietung in Die Geisteswissenschaften (Pengantar Studi ilmu-ilmu Kebudayaan), 1883. Ideen Uber Eine Beschreibende und Zergliedernde Psychologi (Ide-ide tentang Psikologi deskriptif dan Analitik), 1894. Das Wesn der Philosophie (Esensi Filsafat), 1907. Der Aufbau der Geschichtlichen Welt in Den Geisteswissenschaften (Konstruksi Dunia Sejarah dalam Studi-studi Ilmu kebudayaan) 1910.
B.     Pemikiran Wilhem Dilthey
Berdasarkan sejarah kehidupan Dilthey yang dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa Dilthey awalnya seorang yang sangat religius dan ingin menjadi seorang pendeta. Akan tetapi setelah ia bertemu dengan seorang sejarawan yang kemudian mengajarkannya berbagai hal, Dilthey mengalih arah pemikirannya ke ranah sejarah dan filsafat.
Adapun beberapa pemikiran Dilthey yang bisa dijelaskan dalam makalah ini antara lain:
1.      Pemikiran Tentang Hermeneutika
Wilhelm Dilthey sebgai seorang filsuf yang cukum dikenal dinegara asalnya, Jerman. Ia dikenal sorang tokoh tokoh filsuf yang cukup masyhur dalam bidang hermeneutika filosofis, ia dikenal dengan karena riset historisnya. Karya-karyanya dikumoulkan menjadi tujuh jilid dan terutama berkaitan dengan perhatian terhadap pemahaman historis, ia seorang filsuf yanh menaruh perhatian pada sejarah. Ia seakan-akan “Mematri” sejarah dan filsafat menjadi satu dengan maksud untuk mengembangkan suatu pandangan tentang filosofis yang komprehensif dan yang btak terjaring oleh dogma metafisika dan tidak diredupkan oleh prasangka (Dilthey, 1962: pattern and meaning in history) yang dikutip dalam buku Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat[3]
Dalam pemikiran hermeneutik ini dilthey mengkrtik dua aliran sebagai bentuk konstruksi pemahaman manusia. Yang pertama adalah aliran realist tradisionalis. Aliran ini berpendapat bahwa fakta dan interpretasi didasarkan pada aturan agama yang mengaturnya. Kehidupan manusia sudah diatur sedemikian rupa dalam kitab suci sehingga manusia hanya perlu menjalani tanpa harus menafsirkan lebih jauh tentang teks tersebut. Hal ini menurut Dilthey merupakan penyempitan makna kehidupan itu sendiri. Kehidupan manusia dibangun atas dasar sejarah hidupnya dan semua itu bisa ditafsirkan ulang untuk memperoleh makna dari kehidupan itu sendiri, yang kedua adalah aliran idealist. Aliran ini berpendapat bahwa sejarah merupakan proses alami manusia yang berjalan terus menerus dan tidak pernah berubah..[4]
Seorang tokoh filsafat, Richard Palmer menjelaskan hermeneutika Dilthey ada beberapa bagian, yaitu:[5]
a)      Pengalaman
Dilthey memaknai pengalaman dengan kehidupan itu sendiri. Pengalaman hidup dimaknai sebagai suatu unit yang secara bersamaan diyakini mempunyai makna yang umum: “Apa yang terdapat dalam arus waktu satu kesatuan pada masa sekarang karena makna kesatuannya itu merupakan entitas paling kecil yang dapat kita tunjuk sebagai sebuah pengalaman. Lebih jauh, seseorang dapat menyebut setiap kesatuan menyeluruh dari bagian-bagian hidup terikat secara bersama melalui makna umum bagi keseluruhan hidup sebagai suatu pengalaman, bahkan jika bagian-bagian lainnya terpisah antara satu dengan yang lain oleh adanya gangguan berbagai peristiwa.
Pengalaman memiliki dua arti, yaitu kesegeraan dan totalitas. Kesegeraan menunjukkan bahwa makna hadir tanpa kebutuhan akan rasionalisasi. Totalitas berarti bahwa kandungan makna mempunyai bobot dan cukup signifikan untuk memadukan beberapa momen dalam kehidupan seseorang. Pengalaman dalam hal ini dipandang sebagai sumber sejarah.
Dilthey mendefinisikan pengalaman tidaklah dibentuk sebagai kandungan perilaku kesadaran reflektif, karena jika demikian ia akan menjadi sesuatu yang akan kita sadari, lebih dari itu ia merupakan prilaku itu sendiri. Ia merupakan sesuatu dimana kita hidup dan kita lalui, ia merupakan sikap yang sebenarnya kita jalani untuk hidup dan dimana kita hidup. Hal ini mengandung makna bahwa pengalaman secara langsung tidak akan dapat memahami dirinya sendiri, karena jika hal ini terjadi maka sesungguhnya pengalaman merupakan perilaku kesadaran reflektif.
Pemahaman Dilthey terhadap pengalaman membawa ia sampai pada sebuah kesadaran penting yang ia gunakan dalam hermeneutikanya bahwa pengalaman secara instrinsik bersifat temporal (dan ini bermakna historis dalam artian yang paling dalam dari kata tersebut) dan untuk itu pemahaman akan pengalaman juga harus sepadan dengan kategori temporal (historis) pemikiran.
b)      Ekspresi.
Dilthey memahami ekspresi bukan merupakan pembentukan perasaan seseorang namun lebih kepada ekspresi hidup. Sebuah ekspresi mengacu pada ide, hukum, bentuk sosial, bahasa dan segala sesuatu yang merefleksikan kehidupan manusia. Dengan demikian, ekspresi bisa dimaknai dengan obyektivikasi pemikiran/pengetahuan, perasaan dan keinginan manusia.
Signifikansi hermeneutis obyektivikasi adalah sesuatu yang oleh karena pemahaman dapat difokuskan terhadap sesuatu yang dapat difiksisasikan, ekspresi obyektif pengalaman hidup yang berlawanan dengan segala upaya untuk dapat mengatasinya melalui aktifitas introspeksi. Introspeksi tidak dapat dijadikan sebagai basis ilmu-ilmu kemanusiaan, karena refleksi langsung atas pengalaman menghasilkan sebuah intuisi yang tidak dapat dikomunikasikan dan konseptualisasi yang dengan sendirinya merupakan sebuah ekspresi kehidupan yang mendalam. Setiap sesuatu dimana spirit manusia telah mengobyektifikasikan dirinya masuk dalam wilayah ilmu-ilmu kemanusiaan. Cakupannya seluas pemahaman itu sendiri dan pemahaman memiliki obyek kebenarannya dalam obyektifikasi kehidupan itu sendiri[6].
c)         Karya Seni Sebagai Obyektifikasi Pengalaman Hidup.
Dilthey mengklasifikasikan hidup dan pengalaman manusia ke dalam tiga kategori utama:Pertama, gagasan-gagasan (yaitu konsep, penilaian, dan bentuk-bentuk pemikiran yang lebih luas) merupakan sebuah kandungan pemikiran yang terbebaskan dari ruang, waktu dan pelakunya dimana gagasan-gagasan itu lahir dan untuk alasan inilah gagasan-gagasan itu memiliki akurasi dan mudah dikomunikasikan.
Kedua, tindakan leih sulit untuk diinterpretasikan karena di dalam sebuah tindakan terdapat sebuah tujuan tertentu, ketetiga terdapat ekspresi pengalaman hidup yang meluas dari ekspresi kehidupan dalam yang spontanseperti pernyataan dan sikap diri ke ekspresi sadar yang terbentuk dalam karya seni.[7]
Dilthey menegaskan  prinsip-prinsip hermeneutika dapat menyinari cara untuk memberikan landasan teori umum pemahaman. Dengan demikian hermeneutika menjadi sebuah teori yang tidak hanya interpretasi teks, namun bagaimana hidup mengungkap dan mengekspresikan dirinya dalam karya. Oleh karena itu, ekspresi secara keseluruhan tidak bersifat personal, melainkan merupakan realitas sosial historis yang terungkap dalam pengalaman, realitas sosial historis dari pengalaman itu sendiri.[8]
d)        Pemahaman
Menurut Dilthey, pengalaman merupakan proses jiwa dimana kita memperluas pengalaman hidup manusia. Ia menegaskan bahwa manusia adalah makhluk historis. Manusia memahami dirinya tidak melalui introspeksi tapi melalui obyektifikasi hidup. Sejarah kehidupan dan pengalaman yang didapatkan oleh manusia mengantarkan mereka pada sebuah pemahaman akan nilai-nilai yang terkandung dalam hidup itu sendiri. Masa lalu adalah pembelajaran dimana dengan mengingat kembali rangkaian kejadian dan pengalaman hidupnya, manusia bisa mencapai suatu pemahaman yang mendasar terhadap dirinya sendiri.
Menurut Dilthey, makna memiliki peranan penting dalam pemahaman. Makna adalah apa yang diperoleh pengalaman dalam interaksi resiprokal yang esensial dari keseluruhan dan bagian-bagian lingkaran hermeneutis. Makna keseluruhan adalah suatu “makna” yang diperoleh dalam pemaknaan bagian-bagian individual. Suatu peristiwa atau pengalaman akan mengubah kehidupan kita, dimana apa yang sebelumnya bermakna menjadi tidak bermakna dan sebaliknya.
Makna merupakan sesuatu yang bersifat historis, ia merupakan suatu hubungan keseluruhan kepada bagian-bagiannya yang kita lihat dari sudut pandang tertentu, pada saat-saat tertentu, bagi kombinasi bagian-bagian tertentu. Makna berubah selaras dengan waktu, merupakan persoalan hubungan dimana peristiwa dilihat. Dengan demikian, makna bersifat kontekstual dan merupakan bagian dari situasi.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa pemahaman tidak terlepas dari setting historisnya. Kita menangkap makna yang terdapat dalam setiap kejadian dan pengalaman yang mana makna tersebut memberikan pemahaman kepada kita. Pengalaman yang terjadi di masa lalu yang memiliki makna dan memberikan pemahaman bisa merubah manusia dalam menjalani hidupnya. Dengan berkaca pada sejarah kehidupannya, manusia mendapatkan banyak makna-makna penting yang menjadi pemahaman-pemahaman baru dalam menginterpretasikan hidupnya. Hal inilah yang menjadi landasan perubahan besar dalam hidup seseorang yang bisa saja menjadi momentum baru dalam sejarah hidupnya.[9]
2.      Filsafat Kehidupan
Istilah filsafat kehidupan pertama kali disebut pada tahun 1827 oleh Fr. Schlegel. Dilthey kemudian mengembangkan dengan memberi arti yang luas pada kehidupan. Menurut Dilthey, kehidupan adalah kumpulan dan kesatuan pengalaman manusia dari lahir sampai mati dan menyatu dalam kehidupan umat manusia. Gagasan ini yang mendasari pemikiran Dilthey selanjutnya.
Pemikiran Dilthey sebagai filsuf terletak pada tiga hal yang saling berkaitan. Pertama, ia berpendapat bahwa semua pengetahuan berdasarkan dari pengalaman. Kedua, filsafat muncul dari dan mengacu pada kehidupan manusia sehari-hari. Ketiga, filsafat harus terikat kuat pada pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu-ilmu budaya empirisme.
Langkah awal Dilthey menerangkan tentang filsafat kehidupannya adalah dengan menyadari bahwa kehidupan itu sepenuhnya adalah objek dari filsafat. Segala refleksi pikiran terhadap kehidupan, segala nilai-nilai dan prinsip moral, adalah bukanlah produk yang berasal dari pengetahuan murni pikiran melainkan kehidupan tertentu dari seseorang pada waktu tertentu di sebuah tempat tertentu, dikuatkan oleh berbagai keadaan, dipengaruhi oleh berbagai pendapat di sekitar mereka, dibangun wawasan pada masa mereka. Segala refleksi dan penilaian tersebut diwarnai oleh relativitas.[10]
Kemudian Dilthey menegaskan bahwa apa yang sebenarnya kita alami adalah hidup dengan penuh pengalaman. Segala pengalaman ini bukan hanya sebuah kumpalan sensasi dari warna dan garis lukisan, melainkan bagian dari pengalaman yang merupakan awal realita.
Untuk menjawab masalah empiris, Dilthey menyatakan bahwa hidup bukan kumpulan fakta yang terpisah, hidup merupakan sesuatu yang sudah teratur, diinterpretasi dan penuh dengan makna.
Meuurtnya Dilthey , seorang filsuf merupakan bagian dari kehidupan, sebuah kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh berbagai kejadian dan pengetahuan yang menyatu dalam pikiriannya.
 Proses pemaknaan hidup yang sudah terorganisir dan kaya akan pengetahuan didapatkan dari pengalaman orang tersebut. Dia menyadari kinerja pikirannya, bagaimana gagasan meningkatkan perasaannya dan perasaan tersebut berubah menjadi sebuah perhatian yang kemudian membuat filsuf tersebut terbiasa kualitas kehidupan. Kehidupan yang ada pada saat ini merupakan rangkaian dari pengalaman masa lalu yang memberikan pengetahuan untuk merangkai masa depan
Ada tiga struktur kehidupan yang dijelaskan oleh Dilthey, yaitu dimensi intelektual yang dibangun oleh akal budi, dimensi afektif yang menjadi dasar realisasi keseluruhan nilai yang membentuk penghayatan hidup dan dimensi kehendak yang mencakup prinsip-prinsip tindakan.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa dalam pemaknaan kehidupan kita tidak akan mungkin lepas dari sejarah. Seorang filsuf sekalipun sangat terikat pada sejarah kehidupannya. Pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu, masa sekarang yang kemudian menjadi rangkaian masa depan adalah satu-kesatuan yang membentuk kehidupan manusia. Sedangkan ilmu-ilmu lain adalah alat bantu untuk mengungkap sejarah kehidupan manusia.[11]



C.    Hermeneutika Sebagai Metode
Dilthey berambisi untuk meyusun sebuah dasar epistemologis bagi ilmu kemanusiaan, terutama ilmu sejarah. Tantangan yang dihadapi Dilthey adalah bagaimana menempatkan penyelidikan sejarah supaya sejajar dengan penelitian ilmiah dalam bidang ilmu alam. Perbedaan objek kedua ilmu ini cukup mencolok. Bila ilmu kemanusiaan mengenal dua dimensi eksterior dan interior bagi objeknya, maka ilmu alam hanya mengenal dimensi eksterior
Dilthey menganjurkan penggunaan hermeneutika, sebab baginya, hermeneutika adalah dasar dari Geisteswissenschaften. Berkenaan dengan keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya, diperlukan bentuk pemahaman yang khusus. Hermeneutikanya Dilthey berkisar pada tiga unsur yaitu Verstehen (memahami), erlebnis (dunia pengalaman batin) dan Ausdruck (ekspresi hidup). Ketiga unsur ini saling berkaitan dan saling mengandaikan.[12]
Erlebnis adalah kenyataan sadar keberadaan manusia dan merupakan kenyataan dasar hidup dari mana segala kenyataan dieksplisitkan. Dalam erlebnis hidup merupakan realitas fundamental yang teralami secara langsung, sehingga belum memunculkan pembedaan subjek dan objek. Erlebnis adalah basis kenyataan bagi munculnya imaginasi, ingatan dan pikiran. Ia ada sebelum ada refleksi dan sebelum ada pemisahan subjek dan objek (Ankersmit,1987: 160; Poespoprodjo, 1987: 54).
Ausdruck atau ekspresi adalah ungkapan kegiatan jiwa. Ekspresi muncul dalam berbagai bentuk tindakan. Ada beberapa bentuk ekspresi; Pertama, ekspresi yang isinya telah tetap dan identik, seperti, rambu-rambu lalu lintas. Kedua, ekspresi tingkah laku manusia. Tingkah laku ini bisa individual atau serangkaian tindakan yang panjang. Ketiga, ekspresi spontan, seperti tersenyum, tertawa, kagum dan seterusnya. Ekspresi ini merupakan ungkapan perasaan yang kadang dangkal, dan kadang sangat dalam (Poespoprodjo,1987: 57).[13]
Sementara itu verstehen atau pemahaman adalah suatu proses mengetahui kehidupan kejiwaan lewat ekspresi-ekspresinya yang diberikan pada indera. Memahami adalah mengetahui yang dialami orang lain, lewat suatu tiruan pengalamannya. Dengan kata lain verstehen adalah menghidupkan kembali atau mewujudkan kembali pengalaman seseorang dalam diriku (Anskersmit,1987: 162).
Ilmu kemanusiaan, khususnya sejarah (minat khusus Dilthey), tidak akan memperoleh pengetahuan yang dicari tanpa mempergunakan verstehen atau pemahaman yang membedakannya dari ilmu alam. Manusia sebagai objek pengertian dalam ilmu kemanusiaan memiliki kesadaran. Dan ini memungkinkan bagi penyelidikan tentang alasan-alasan tersembunyi dibalik perbuatannya yang dapat diamati. Kita dapat memahami perbuatan dengan mengungkap pikiran, perasaan dan keinginannya. Ilmu kemanusiaan tidak hanya mampu mengetahui apa yang telah diperbuat manusia tetapi juga pengalaman batin (erlebnis), pikiran, ingatan, keputusan nilai dan tujuan yang mendorongnya berbuat (Sills, 1972: 85).
Perbuatan atau tindakan merupakan ekspresi jiwa manusia, ide dan arti yang diharapkan oleh individu maupun masyarakat, yang berupa kata, sikap, karya seni dan juga lembaga-lembaga sosial. Kita akan memahami ekspresi (ausdruck) dengan menghayati kembali dalam kesadaran kita sendiri, penghayatan yang menimbulkan ekspresi tadi.
Peneliti ilmu kemanusiaan harus berusaha seperti hidup dalam objeknya, atau membuat objek hidup dalam dirinya. Dengan penghayatan tersebut akan memudahkan munculnya verstehen atau pemahaman. Dalam konteks ilmu sejarah, dengan menghayati kembali masa lampau, sejarawan akan memperluas dan membuat berkembang kepribadiannya, menggabungkan pengalaman pada masa lalu ke dalam pengalaman masa kini (Anskersmit, 1987: 162).
Setiap pengalaman baru, demikian Dilthey, menurut isinya ditentukan oleh semua pengalaman yang sampai pada saat itu kita miliki; sebaliknya, pengalaman baru itu memberi arti dan penafsiran baru kepada pengalaman-pengalaman lama. Bila seorang peneliti ingin mengerti perbuatan pelaku sejarah yang berupa ekspresi-ekspresi (ausdruck), maka ia harus merekonstruksikan kesatuan dan kebersatuannya dengan pengalaman batin (erlebnis) (Anskersmit, 1987: 163). [14]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan 
Sejarah kehidupan Dilthey menunjukkan bahwa ia adalah seorang religius yang kemudian berubah haluan menjadi sejarawan dan filsuf. Pemikirannya dipengaruhi oleh sejarawan dan filsuf pada masa hidupnya yang mana banyak memberikan ia pengetahuan yang besar dalam memahami kehidupan secara menyeluruh.
Filsafat kehidupan Dilthey menjelaskan bahwa hidup adalah satu kesatuan menyeluruh dari berbagai aspek yang melingkupinya. Hidup tidak hanya sebatas dogma agama maupun pengalaman manusia, melainkan hidup merupakan rentetan kejadian yang menyatu dalam sejarah hidup itu sendiri.
Dengan hermeneutiknya, Dilthey mencoba menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan kehidupan manusia itu sendiri. Pengalaman merupakan bagian dari sejarah hidup yang kemudian menjadi obyek refleksi dari interpretasi. Adapun ekspresi adalah segala bentuk refleksi kehidupan manusia dimana dengan melihat ekspresi tersebut kita dapat mengetahui obyek kebenaran dengan menggunakan pemahaman. Kemudian disebutkan bahwa karya seni merupakan manifestasi hidup yang tidak sepenuhnya mengungkap segala hal dari pengarangnya.
Oleh karena itu, hermeneutik menjadi sebuah metode interpretasi dalam memahami apa yang belum terungkap dalam karya seni tersebut. Lebih lanjut Dilthey menjelaskan bahwa kunci dari interpretasi itu sendiri adalah pemahaman. Dimulai dari memahami historisitas manusia yang mana kemudian pemahaman tersebut menemukan makna dibalik sejarah hidup manusia. Makna tersebut digunakan sebagai pengetahuan yang akan diolah dalam menginterpretasikan sejarah ataupun teks dan lainnya.




DAFTAR PUSTAKA
Wahyu Prihadi Wibowo, Filsafat Kehidupan  Wilhelm Dilthey dalam majalah driyarkara, (Jakarta: STFD, 1990) ha15.
E. Sumaryono, Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta, Kanisius, 2012)
Howard, Roy J., Hermeneutika terjemah. Kusmana (Bandung: Penerbit Nuansa, 2001), hal 50
Palmer, Richard E., Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi terj. Musnur Hery (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).





[1] Wahyu Prihadi Wibowo, Filsafat Kehidupan  Wilhelm Dilthey dalam majalah driyarkara, (Jakarta: STFD, 1990) ha15.
[2] E. Sumaryono, Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta, Kanisius, 2012), hal 45-46
[3] E. Sumaryono, Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta, Kanisius, 1999), hal 47
[4] Howard, Roy J., Hermeneutika terjemah. Kusmana (Bandung: Penerbit Nuansa, 2001), hal 50
[5] Palmer, Richard E., Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi terj. Musnur Hery (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal 72
[6] Ibid.,73
[7] Ibid,.74
[8] Ibid,76
[9] Ibid,.78
[10] Wahyu Prihadi Wibowo, Filsafat Kehidupan  Wilhelm Dilthey dalam majalah driyarkara, (Jakarta: STFD, 1990) ha16-17
[11] Ibid,.18
[12] E. Sumaryono, Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta, Kanisius, 1999), hal 53-
[13] Ibid,.55
[14] Ibid,.56-60

Tidak ada komentar:

Posting Komentar