CHAPTER I
INTRODUCTION
A. Latar Belakang
Wilhelm Dilthey dikenal sebagai sosok pemikir
berkebangsaan Jerman yang kritis terhadap situasi intelektual jamannya. Pada
abad 19, ilmu-ilmu alam menguasai wilayah intelektual Jerman dan Dilthey hadir
sebagai sosok yang mengangkat problematika mengenai ilmu alam sebagai bukan
satu-satunya ilmu untuk menjelaskan segala hal mengenai kehidupan. Ada ilmu
lain yang berbeda dengan ilmu alam namun harus diberi tempat layak berdampingan
dengan ilmu alam, yakni ilmu kemanusiaan.
Pemikiran Dilthey
mengenai ilmu kemanusiaan ini merupakan salah satu dasar untuk memperkuat tema
filosofis yang digelutinya, yang terkait erat dengan sejarah. Baginya, sejarah
merupakan kunci memahami kehidupan manusia. Fokus penulisan filosofis Dilthey
sendiri, sejak tahun 1864 hingga kematiaannya pada tahun 1911, adalah penulisan
karya kritik terhadap Rasio Historis.
Dilthey dapat disebut sebagai figur filsuf yang sangat
menekankan aspek sejarah sebagai topik utama filsafatnya. Banyak pemikir yang
mempengaruhi cara berpikir Dilthey, salah satunya adalah Rickert. Dari Rickert.Pemahan
Dilthey muncul dari realitas fundamental dimana ada
interaksi kesatuan diri manusia (pikiran-tubuh) dengan lingkungan fisik dan
sosial manusia. Dengan demikian, kehidupan, pengetahuan, aktivitas dan
kontemplasi secara keseluruhan terikat dan tidak dapat dipisahkan satu sama
lain. Struktur kompleks dari pemikiran dan tindakan ini haruslah menjadi dasar
dari filsafat mengingat realitas merupakan proses interaksi keduanya. Inilah yang
disebut Dilthey sebagai filsafat kehidupan.
Kehidupan atau kata “hidup” dipakai Dilthey untuk merujuk
pada kehidupan manusia, yakni kehidupan umat manusia dengan pencapaian historisitasnya
dan sedikit relasi terhadap bentuk- bentuk biologis kehidupan manusia[1]
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana
Riwyat Hidup Seorang Wilhelm
Dilthey?
2. Apa
Saja Pokok Pemikiran Wilhelm
Dilthey?
3. Bagaimana
Proses Hermeneutika Wilhelm
Dilthey?
C. TUJUAN MAKALAH
1. Untuk
mengetahui riwayat hidup Wilhelm
Dilthey
2. Untuk
mengetahui pokok pemikiran Wilhelm
Dilthey
3. Untuk
mengetahui kritik atas pemikiran Wilhelm
Dilthey
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Singkat
Kehidupan Wilhelm Dilthey
Wilhelm
Dilthey lahir di Biebrich pada tanggal 19 November 1833. Ayahnya adalah seorang
pendeta Gereja Reformasi. Setelah lulus sekolah grammer di wiesbaden, Dilthey
meneruskan pendidikan Theologi di Heidelberg selama setahun. Ketika kuliah di
Heidelberg, ia dibimbing oleh Kuno Fischer. Kemudian ia pindah ke Universitas
Berlin dan selama disana Dilthey dibimbing oleh Adolf Trendelenburg.
Pada awalnya
Dilthey berminat untuk menjadi seorang pendeta. Akan tetapi kemudian ia
terpengaruh oleh sejarawan ulung seperti Jacob Grimm dan Leopold Von Ranke dan
mengalihkan minatnya kepada filsafat dan sejarah. Pada tahun 1864 Dilthey
memperoleh gelar doktornya dan kemudian menjabat sebagai Profesor Filsafat di
Basel pada tahun 1867, di Kiel pada tahun 1868-1870 dan di Breslau pada tahun
1981. Kemudian ia kembali ke Berlin untuk menggantikan Herman Lotze pada tahun
1882-1905. Pada tanggal 1 Oktober 1911 Dilthey wafat di Seis.
Sebagai
seorang filsuf, Dilthey sangat berminat pada logika dan metodologi sejarah
serta masyarakat. Ia termasuk pelopor filsafat yang anti intelektualis,
mempertahankan ilmu-ilmu kebudayaan atau humaniora sebgai ilmu-ilmu yang tidak
bergantung pada ilmu-ilmu alam atau realita. Selain sebagai filsuf dan
sejarawan, ia juga terkenal sebagai penulis biografi dan kritisi sastra.[2]
Adapun
karya-karyanya yang dicetak pada masa hidupnya antara lain.
Das Leben Schleiermachers
(Kehidupan Schleiermacher), 1870. Einlietung in Die Geisteswissenschaften (Pengantar Studi
ilmu-ilmu Kebudayaan), 1883. Ideen Uber Eine Beschreibende und Zergliedernde
Psychologi (Ide-ide tentang Psikologi deskriptif dan Analitik), 1894.
Das Wesn der Philosophie (Esensi Filsafat), 1907.
Der Aufbau der Geschichtlichen Welt in Den
Geisteswissenschaften (Konstruksi Dunia Sejarah dalam Studi-studi Ilmu
kebudayaan) 1910.
B. Pemikiran Wilhem
Dilthey
Berdasarkan sejarah kehidupan Dilthey yang dijelaskan pada
pembahasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa Dilthey awalnya seorang yang
sangat religius dan ingin menjadi seorang pendeta. Akan tetapi setelah ia
bertemu dengan seorang sejarawan yang kemudian mengajarkannya berbagai
hal, Dilthey mengalih arah pemikirannya ke ranah sejarah
dan filsafat.
Adapun
beberapa pemikiran Dilthey yang bisa dijelaskan dalam makalah ini antara lain:
1.
Pemikiran
Tentang Hermeneutika
Wilhelm
Dilthey sebgai seorang filsuf yang cukum dikenal dinegara asalnya, Jerman. Ia
dikenal sorang tokoh tokoh filsuf yang cukup masyhur dalam bidang hermeneutika
filosofis, ia dikenal dengan karena riset historisnya. Karya-karyanya
dikumoulkan menjadi tujuh jilid dan terutama berkaitan dengan perhatian
terhadap pemahaman historis, ia seorang filsuf yanh menaruh perhatian pada
sejarah. Ia seakan-akan “Mematri” sejarah dan filsafat menjadi satu dengan
maksud untuk mengembangkan suatu pandangan tentang filosofis yang komprehensif
dan yang btak terjaring oleh dogma metafisika dan tidak diredupkan oleh prasangka
(Dilthey, 1962: pattern and meaning in history) yang dikutip dalam buku
Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat[3]
Dalam
pemikiran hermeneutik ini dilthey mengkrtik dua aliran sebagai bentuk konstruksi pemahaman manusia. Yang pertama
adalah aliran realist tradisionalis. Aliran ini berpendapat bahwa fakta dan
interpretasi didasarkan pada aturan agama yang mengaturnya. Kehidupan manusia
sudah diatur sedemikian rupa dalam kitab suci sehingga manusia hanya perlu
menjalani tanpa harus menafsirkan lebih jauh tentang teks tersebut. Hal ini
menurut Dilthey merupakan penyempitan makna kehidupan itu sendiri. Kehidupan
manusia dibangun atas dasar sejarah hidupnya dan semua itu bisa ditafsirkan
ulang untuk memperoleh makna dari kehidupan itu sendiri,
yang kedua adalah aliran
idealist. Aliran ini berpendapat bahwa sejarah merupakan proses alami manusia
yang berjalan terus menerus dan tidak pernah berubah..[4]
Seorang
tokoh filsafat, Richard Palmer
menjelaskan hermeneutika Dilthey ada beberapa bagian, yaitu:[5]
a)
Pengalaman
Dilthey memaknai pengalaman dengan kehidupan itu sendiri.
Pengalaman hidup dimaknai sebagai suatu unit yang secara bersamaan diyakini mempunyai makna
yang umum: “Apa yang terdapat dalam arus waktu satu kesatuan pada masa sekarang karena
makna kesatuannya itu merupakan entitas paling kecil yang dapat kita tunjuk
sebagai sebuah pengalaman. Lebih jauh, seseorang dapat menyebut setiap kesatuan
menyeluruh dari bagian-bagian hidup terikat secara bersama melalui makna umum
bagi keseluruhan hidup sebagai suatu pengalaman, bahkan jika bagian-bagian
lainnya terpisah antara satu dengan yang lain oleh adanya gangguan berbagai
peristiwa.”
Pengalaman memiliki dua arti, yaitu kesegeraan dan
totalitas. Kesegeraan menunjukkan bahwa makna hadir tanpa kebutuhan akan
rasionalisasi. Totalitas berarti bahwa kandungan makna mempunyai bobot dan
cukup signifikan untuk memadukan beberapa momen dalam kehidupan seseorang.
Pengalaman dalam hal ini dipandang sebagai sumber sejarah.
Dilthey mendefinisikan pengalaman tidaklah dibentuk
sebagai kandungan perilaku kesadaran reflektif, karena jika demikian ia akan
menjadi sesuatu yang akan kita sadari, lebih dari itu ia merupakan prilaku itu
sendiri. Ia merupakan sesuatu dimana kita hidup dan kita lalui, ia merupakan
sikap yang sebenarnya kita jalani untuk hidup dan dimana kita hidup. Hal ini
mengandung makna bahwa pengalaman secara langsung tidak akan dapat memahami
dirinya sendiri, karena jika hal ini terjadi maka sesungguhnya pengalaman
merupakan perilaku kesadaran reflektif.
Pemahaman Dilthey terhadap pengalaman membawa ia sampai
pada sebuah kesadaran penting yang ia gunakan dalam hermeneutikanya bahwa
pengalaman secara instrinsik bersifat temporal (dan ini bermakna historis dalam
artian yang paling dalam dari kata tersebut) dan untuk itu pemahaman akan
pengalaman juga harus sepadan dengan kategori temporal (historis) pemikiran.
b)
Ekspresi.
Dilthey memahami ekspresi bukan merupakan pembentukan
perasaan seseorang namun lebih kepada ekspresi hidup. Sebuah ekspresi mengacu
pada ide, hukum, bentuk sosial, bahasa dan segala sesuatu yang merefleksikan
kehidupan manusia. Dengan demikian, ekspresi bisa dimaknai dengan obyektivikasi
pemikiran/pengetahuan, perasaan dan keinginan manusia.
Signifikansi hermeneutis obyektivikasi adalah sesuatu
yang oleh karena pemahaman dapat difokuskan terhadap sesuatu yang dapat
difiksisasikan, ekspresi obyektif pengalaman hidup yang berlawanan dengan
segala upaya untuk dapat mengatasinya melalui aktifitas introspeksi.
Introspeksi tidak dapat dijadikan sebagai basis ilmu-ilmu kemanusiaan, karena
refleksi langsung atas pengalaman menghasilkan sebuah intuisi yang tidak dapat
dikomunikasikan dan konseptualisasi yang dengan sendirinya merupakan sebuah
ekspresi kehidupan yang mendalam. Setiap sesuatu dimana spirit manusia telah
mengobyektifikasikan dirinya masuk dalam wilayah ilmu-ilmu kemanusiaan.
Cakupannya seluas pemahaman itu sendiri dan pemahaman memiliki obyek
kebenarannya dalam obyektifikasi kehidupan itu sendiri[6].
c)
Karya Seni Sebagai Obyektifikasi Pengalaman Hidup.
Dilthey mengklasifikasikan hidup dan pengalaman manusia
ke dalam tiga kategori utama:Pertama, gagasan-gagasan (yaitu konsep, penilaian,
dan bentuk-bentuk pemikiran yang lebih luas) merupakan sebuah kandungan
pemikiran yang terbebaskan dari ruang, waktu dan pelakunya dimana
gagasan-gagasan itu lahir dan untuk alasan inilah gagasan-gagasan itu memiliki
akurasi dan mudah dikomunikasikan.
Kedua, tindakan leih sulit untuk diinterpretasikan karena
di dalam sebuah tindakan terdapat sebuah tujuan tertentu,
ketetiga terdapat ekspresi pengalaman hidup yang meluas dari
ekspresi kehidupan dalam yang spontanseperti pernyataan dan sikap diri ke
ekspresi sadar yang terbentuk dalam karya seni.[7]
Dilthey menegaskan prinsip-prinsip hermeneutika
dapat menyinari cara untuk memberikan landasan teori umum pemahaman. Dengan
demikian hermeneutika menjadi sebuah teori yang tidak hanya interpretasi teks,
namun bagaimana hidup mengungkap dan mengekspresikan dirinya dalam karya. Oleh
karena itu, ekspresi secara keseluruhan tidak bersifat personal, melainkan
merupakan realitas sosial historis yang terungkap dalam pengalaman, realitas
sosial historis dari pengalaman itu sendiri.[8]
d)
Pemahaman
Menurut Dilthey, pengalaman merupakan proses jiwa dimana
kita memperluas pengalaman hidup manusia. Ia menegaskan bahwa manusia adalah
makhluk historis. Manusia memahami dirinya tidak melalui introspeksi tapi
melalui obyektifikasi hidup. Sejarah kehidupan dan pengalaman yang didapatkan
oleh manusia mengantarkan mereka pada sebuah pemahaman akan nilai-nilai yang
terkandung dalam hidup itu sendiri. Masa lalu adalah pembelajaran dimana dengan
mengingat kembali rangkaian kejadian dan pengalaman hidupnya, manusia bisa
mencapai suatu pemahaman yang mendasar terhadap dirinya sendiri.
Menurut Dilthey, makna memiliki peranan penting dalam
pemahaman. Makna adalah apa yang diperoleh pengalaman dalam interaksi
resiprokal yang esensial dari keseluruhan dan bagian-bagian lingkaran
hermeneutis. Makna keseluruhan adalah suatu “makna” yang diperoleh dalam
pemaknaan bagian-bagian individual. Suatu peristiwa atau pengalaman akan
mengubah kehidupan kita, dimana apa yang sebelumnya bermakna menjadi tidak
bermakna dan sebaliknya.
Makna merupakan sesuatu yang bersifat historis, ia
merupakan suatu hubungan keseluruhan kepada bagian-bagiannya yang kita lihat
dari sudut pandang tertentu, pada saat-saat tertentu, bagi kombinasi
bagian-bagian tertentu. Makna berubah selaras dengan waktu, merupakan persoalan
hubungan dimana peristiwa dilihat. Dengan demikian, makna bersifat kontekstual
dan merupakan bagian dari situasi.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa pemahaman
tidak terlepas dari setting historisnya. Kita menangkap makna yang terdapat
dalam setiap kejadian dan pengalaman yang mana makna tersebut memberikan
pemahaman kepada kita. Pengalaman yang terjadi di masa lalu yang memiliki makna
dan memberikan pemahaman bisa merubah manusia dalam menjalani hidupnya. Dengan
berkaca pada sejarah kehidupannya, manusia mendapatkan banyak makna-makna
penting yang menjadi pemahaman-pemahaman baru dalam menginterpretasikan
hidupnya. Hal inilah yang menjadi landasan perubahan besar dalam hidup
seseorang yang bisa saja menjadi momentum baru dalam sejarah hidupnya.[9]
2.
Filsafat Kehidupan
Istilah filsafat kehidupan pertama kali disebut pada
tahun 1827 oleh Fr. Schlegel. Dilthey kemudian mengembangkan dengan memberi
arti yang luas pada kehidupan. Menurut Dilthey, kehidupan adalah kumpulan dan kesatuan
pengalaman manusia dari lahir sampai mati dan menyatu dalam kehidupan umat
manusia. Gagasan ini yang mendasari pemikiran Dilthey selanjutnya.
Pemikiran Dilthey sebagai filsuf terletak pada tiga hal
yang saling berkaitan. Pertama, ia berpendapat bahwa semua pengetahuan
berdasarkan dari pengalaman. Kedua, filsafat muncul dari dan mengacu pada
kehidupan manusia sehari-hari. Ketiga, filsafat harus terikat kuat pada
pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu-ilmu budaya empirisme.
Langkah awal Dilthey menerangkan tentang filsafat
kehidupannya adalah dengan menyadari bahwa kehidupan itu sepenuhnya adalah
objek dari filsafat. Segala refleksi pikiran terhadap kehidupan, segala
nilai-nilai dan prinsip moral, adalah bukanlah produk yang berasal dari
pengetahuan murni pikiran melainkan kehidupan tertentu dari seseorang pada
waktu tertentu di sebuah tempat tertentu, dikuatkan oleh berbagai keadaan,
dipengaruhi oleh berbagai pendapat di sekitar mereka, dibangun wawasan pada
masa mereka. Segala refleksi dan penilaian tersebut diwarnai oleh relativitas.[10]
Kemudian Dilthey menegaskan bahwa apa yang sebenarnya
kita alami adalah hidup dengan penuh pengalaman. Segala pengalaman ini bukan hanya sebuah kumpalan sensasi dari warna dan garis lukisan, melainkan
bagian dari pengalaman yang merupakan awal realita.
Untuk menjawab masalah empiris, Dilthey menyatakan bahwa
hidup bukan kumpulan fakta yang terpisah, hidup merupakan sesuatu yang sudah
teratur, diinterpretasi dan penuh dengan makna.
Meuurtnya Dilthey , seorang filsuf merupakan bagian dari kehidupan, sebuah
kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh berbagai kejadian dan pengetahuan yang
menyatu dalam pikiriannya.
Proses pemaknaan
hidup yang sudah terorganisir dan kaya akan pengetahuan didapatkan dari
pengalaman orang tersebut. Dia menyadari kinerja pikirannya, bagaimana gagasan
meningkatkan perasaannya dan perasaan tersebut berubah menjadi sebuah perhatian
yang kemudian membuat filsuf tersebut terbiasa kualitas kehidupan. Kehidupan
yang ada pada saat ini merupakan rangkaian dari pengalaman masa lalu yang
memberikan pengetahuan untuk merangkai masa depan
Ada tiga struktur kehidupan yang dijelaskan oleh Dilthey,
yaitu
dimensi intelektual yang
dibangun oleh akal budi, dimensi afektif yang menjadi dasar realisasi keseluruhan
nilai yang membentuk penghayatan hidup dan dimensi kehendak yang mencakup prinsip-prinsip tindakan.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa dalam
pemaknaan kehidupan kita tidak akan mungkin lepas dari sejarah. Seorang filsuf
sekalipun sangat terikat pada sejarah kehidupannya. Pengetahuan yang diperoleh
dari masa lalu, masa sekarang yang kemudian menjadi rangkaian masa depan adalah
satu-kesatuan yang membentuk kehidupan manusia. Sedangkan ilmu-ilmu lain adalah
alat bantu untuk mengungkap sejarah kehidupan manusia.[11]
C. Hermeneutika
Sebagai Metode
Dilthey berambisi untuk meyusun sebuah dasar
epistemologis bagi ilmu kemanusiaan, terutama ilmu sejarah. Tantangan yang
dihadapi Dilthey adalah bagaimana menempatkan penyelidikan sejarah supaya
sejajar dengan penelitian ilmiah dalam bidang ilmu alam. Perbedaan objek kedua
ilmu ini cukup mencolok. Bila ilmu kemanusiaan mengenal dua dimensi eksterior
dan interior bagi objeknya, maka ilmu alam hanya mengenal dimensi eksterior
Dilthey menganjurkan penggunaan hermeneutika, sebab
baginya, hermeneutika adalah dasar dari Geisteswissenschaften. Berkenaan dengan
keterlibatan individu dalam kehidupan masyarakat yang hendak dipahaminya,
diperlukan bentuk pemahaman yang khusus. Hermeneutikanya Dilthey berkisar pada
tiga unsur yaitu Verstehen (memahami), erlebnis (dunia pengalaman batin) dan
Ausdruck (ekspresi hidup). Ketiga unsur ini saling berkaitan dan saling
mengandaikan.[12]
Erlebnis adalah kenyataan sadar keberadaan manusia dan
merupakan kenyataan dasar hidup dari mana segala kenyataan dieksplisitkan.
Dalam erlebnis hidup merupakan realitas fundamental yang teralami secara
langsung, sehingga belum memunculkan pembedaan subjek dan objek. Erlebnis
adalah basis kenyataan bagi munculnya imaginasi, ingatan dan pikiran. Ia ada
sebelum ada refleksi dan sebelum ada pemisahan subjek dan objek
(Ankersmit,1987: 160; Poespoprodjo, 1987: 54).
Ausdruck atau ekspresi adalah ungkapan kegiatan jiwa.
Ekspresi muncul dalam berbagai bentuk tindakan. Ada beberapa bentuk ekspresi;
Pertama, ekspresi yang isinya telah tetap dan identik, seperti, rambu-rambu
lalu lintas. Kedua, ekspresi tingkah laku manusia. Tingkah laku ini bisa individual
atau serangkaian tindakan yang panjang. Ketiga, ekspresi spontan, seperti
tersenyum, tertawa, kagum dan seterusnya. Ekspresi ini merupakan ungkapan
perasaan yang kadang dangkal, dan kadang sangat dalam (Poespoprodjo,1987: 57).[13]
Sementara itu verstehen atau pemahaman adalah suatu
proses mengetahui kehidupan kejiwaan lewat ekspresi-ekspresinya yang diberikan
pada indera. Memahami adalah mengetahui yang dialami orang lain, lewat suatu
tiruan pengalamannya. Dengan kata lain verstehen adalah menghidupkan kembali
atau mewujudkan kembali pengalaman seseorang dalam diriku (Anskersmit,1987:
162).
Ilmu kemanusiaan, khususnya sejarah (minat khusus
Dilthey), tidak akan memperoleh pengetahuan yang dicari tanpa mempergunakan
verstehen atau pemahaman yang membedakannya dari ilmu alam. Manusia sebagai
objek pengertian dalam ilmu kemanusiaan memiliki kesadaran. Dan ini
memungkinkan bagi penyelidikan tentang alasan-alasan tersembunyi dibalik
perbuatannya yang dapat diamati. Kita dapat memahami perbuatan dengan mengungkap
pikiran, perasaan dan keinginannya. Ilmu kemanusiaan tidak hanya mampu
mengetahui apa yang telah diperbuat manusia tetapi juga pengalaman batin
(erlebnis), pikiran, ingatan, keputusan nilai dan tujuan yang mendorongnya
berbuat (Sills, 1972: 85).
Perbuatan atau tindakan merupakan ekspresi jiwa manusia,
ide dan arti yang diharapkan oleh individu maupun masyarakat, yang berupa kata,
sikap, karya seni dan juga lembaga-lembaga sosial. Kita akan memahami ekspresi
(ausdruck) dengan menghayati kembali dalam kesadaran kita sendiri, penghayatan
yang menimbulkan ekspresi tadi.
Peneliti ilmu kemanusiaan harus berusaha seperti hidup
dalam objeknya, atau membuat objek hidup dalam dirinya. Dengan penghayatan
tersebut akan memudahkan munculnya verstehen atau pemahaman. Dalam konteks ilmu
sejarah, dengan menghayati kembali masa lampau, sejarawan akan memperluas dan
membuat berkembang kepribadiannya, menggabungkan pengalaman pada masa lalu ke
dalam pengalaman masa kini (Anskersmit, 1987: 162).
Setiap pengalaman baru, demikian Dilthey, menurut isinya
ditentukan oleh semua pengalaman yang sampai pada saat itu kita miliki;
sebaliknya, pengalaman baru itu memberi arti dan penafsiran baru kepada
pengalaman-pengalaman lama. Bila seorang peneliti ingin mengerti perbuatan
pelaku sejarah yang berupa ekspresi-ekspresi (ausdruck), maka ia harus
merekonstruksikan kesatuan dan kebersatuannya dengan pengalaman batin
(erlebnis) (Anskersmit, 1987: 163). [14]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sejarah kehidupan Dilthey menunjukkan bahwa ia adalah
seorang religius yang kemudian berubah haluan menjadi sejarawan dan filsuf.
Pemikirannya dipengaruhi oleh sejarawan dan filsuf pada masa hidupnya yang mana
banyak memberikan ia pengetahuan yang besar dalam memahami kehidupan secara
menyeluruh.
Filsafat kehidupan Dilthey menjelaskan bahwa hidup adalah
satu kesatuan menyeluruh dari berbagai aspek yang melingkupinya. Hidup tidak
hanya sebatas dogma agama maupun pengalaman manusia, melainkan hidup merupakan
rentetan kejadian yang menyatu dalam sejarah hidup itu sendiri.
Dengan hermeneutiknya, Dilthey mencoba menjelaskan bahwa
pengalaman manusia merupakan kehidupan manusia itu sendiri. Pengalaman
merupakan bagian dari sejarah hidup yang kemudian menjadi obyek refleksi dari
interpretasi. Adapun ekspresi adalah segala bentuk refleksi kehidupan manusia
dimana dengan melihat ekspresi tersebut kita dapat mengetahui obyek kebenaran
dengan menggunakan pemahaman. Kemudian disebutkan bahwa karya seni merupakan
manifestasi hidup yang tidak sepenuhnya mengungkap segala hal dari pengarangnya.
Oleh karena itu, hermeneutik menjadi sebuah metode
interpretasi dalam memahami apa yang belum terungkap dalam karya seni tersebut.
Lebih lanjut Dilthey menjelaskan bahwa kunci dari interpretasi itu sendiri
adalah pemahaman. Dimulai dari memahami historisitas manusia yang mana kemudian
pemahaman tersebut menemukan makna dibalik sejarah hidup manusia. Makna
tersebut digunakan sebagai pengetahuan yang akan diolah dalam
menginterpretasikan sejarah ataupun teks dan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Wahyu Prihadi Wibowo, Filsafat
Kehidupan Wilhelm Dilthey dalam majalah
driyarkara, (Jakarta: STFD, 1990) ha15.
E. Sumaryono, Hermeneutika, Sebuah
Metode Filsafat (Yogyakarta, Kanisius, 2012)
Howard, Roy
J., Hermeneutika terjemah. Kusmana (Bandung: Penerbit Nuansa, 2001),
hal 50
Palmer, Richard E., Hermeneutika: Teori Baru Mengenai
Interpretasi terj. Musnur Hery (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).
[1] Wahyu Prihadi Wibowo, Filsafat
Kehidupan Wilhelm
Dilthey dalam majalah driyarkara, (Jakarta:
STFD, 1990) ha15.
[5] Palmer, Richard E., Hermeneutika: Teori Baru Mengenai
Interpretasi terj. Musnur Hery (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005),
hal 72
[7]
Ibid,.74
[9] Ibid,.78
[10]
Wahyu Prihadi Wibowo, Filsafat
Kehidupan Wilhelm
Dilthey dalam
majalah driyarkara, (Jakarta: STFD, 1990) ha16-17
[11] Ibid,.18
[13]
Ibid,.55
[14]
Ibid,.56-60
Tidak ada komentar:
Posting Komentar