MATERI AL-ASMA’ AL-HUSNA DI SMP
MOH. RIDWAN[1]
ABSTRAK: Mengenal Allah adalah
pelajaran pertama yang harus diajarkan oleh setiap lembaga pendidikan islam atau
negeri kepada siswanya, karena
mengenal tuhan yang
maha Esa dan segala sifat-Nya merupakan hal yang utama yang harus
dipahami dan diyakini oleh setiap manusia yang memilki kemampuan lebih dibandingkan dengan
ciptaan tuhan lain-Nya.
Salah satu cara mengenalkan Allah
kepada anak didik di SMP dengan memberikan pemahaman tentang nama-nam Allah
yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.
Dalam agama Islam, Al-Aasma’
Al-Husna adalah nama-nama Allah yang agung.
Asma berarti nama dan Husna berarti yang baik atau yang indah, jadi Asma'ul
Husna adalah nama nama milik Allah yang baik dan
indah. Para ulama telah membahas, mengkaji dan menafsirkan nama-nama Allah dan
para ulama juga telah sepakat tentang jumlah Al-Asma’ Al-Huna yang
mendekati delapan puluh. Namun ada sebagian yang menyebutkan bahwa nama Allah
jumlahnya sembilan puluh sembilan nama, dan ada juga yang lain menyebutkan
lebih dari jumlah yang disebutkan di atas. bahkan ada yang menyebutkan lebih
dari dua ratus nama.
Kata Kunci : Al-Asma’ Al-Husna
Pendahuluan
Mengenal dan
mempelajari nama-nama Allah sangatlah agung, penuh dengan kebaikan dan
keutamaan, serta mengandung beraneka ragam buah dan manfaatnya. Ilmu tentang
nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah ilmu yang paling mulia dan paling utama
yang kedudukannya paling tinggi dan derajatnya paling agung. Mempelajari serta mendalami makna Al-Asma`
Al-Husna adalah amalan yang paling utama dan mulia.
Disamping itu, mengenal nama-nama Allah adalah dasar
keimanan dan iman akan
semakin bertambah, menambah kecintaan hamba kepada-Nya, mengenal nama-Nya juga akan membuat
seorang hamba semakin mengagungkan dan membesarkan-Nya.
Siapa saja yang mengenal Allah, ia akan
mengenal segala sesuatu selain Allah. Namun, siapa saja yang tidak mengenal-Nya. Maka Allah
menjadikanya lupa pada diri sendir. Allah s.w.t berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ
فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang
lupa terhadap Allah maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka
sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (Al-Hasyr: 19)[2]
Bagaimana
dapat dekat dengan Allah secara lahir dan batin? Seluruh manusia bisa
dipastikan sudah mengenal dengan peribahasa “Tak Kenal Maka Tak Sayang” bagitu
juga dengan mencintai Allah dengan hati dan jiawa yang sesungguhnya. Manusia
mengenal-Nya lebih dekat. Cara berkenalan dengan Allah yang maha pengasih lagi
maha penyayang dengan cara mengetahui nama-nama Allah yang memiliki sembilan
puluh sembilana nama. Dengan menyebut nama nama Allah, kita akan merasa dekat
dengan-Nya. Disamping itu, banyak manfaat yang diperoleh saat menyebut nama
sang pencipta.[3]
Namun
meneganal Allah dengan menggunakan nalar dan tidak menggunakan wahyu Allah
adalah cara yang tidak dibenarkan. Mengingat ukuran kebenaran yang melalui
nalar mengenal-Nya tidak dapat dipertanggung jawabkan dengan benar. Dan
sebagian besar penjelasan tentang nama-nama Allah yang tidak bersandar pada
wahyu tidak bisa diterima nalar sehat. Dan Allah tahu kekurangan manusi itu,
dengan kekurangan tersebut. Allah mengutus rasul, dengan menurunkan kitab yang
bisa membimbing dan mengenalkan diri-Nya. Dalam kitab-kitab tersebut dijelaskan
tentang sang pencipta yang sesungguhnya.
Orang-orang
yang berakal sehat tentu akan akan meyakini bahwa Allah maha sempurna,
,mencakup setiap hal, dan tidak ada suatupun yang tersembunyi bagi-Nya. Orang
yang sadar tentu juga meyakini bahwa hanya Allah lah yang mengetahui secara
utuh tentang diri-Nya.
Allah
telah mengutus Rasul-Nya bagar menyampaikan kepada seluiruh manusia, bahwa
semua wahyu yang Allah turunkan kepadanya telah terangkum dalam satu kalimat
pendek di dalam kita suci Al-qur’an yang artinya: “Tuhanmu Adalah Tuhan Yang
Maha Esa”. (QS. AL-Anbiya’:108)
Selain
itu, Allah juga mengenalkan tentang diri-Nya melalui penjelasa-Nya dengan
bukti-bukti yang mampu melumpuhkan akal dan mengiringi hati nurani untuk
memahaminya tentang dzat dan keagungan-Nya, hal itu hanya untuk mengenalkan dan
menunjukkan kebenaran dengan sejelas-jelasnya kepada seluruh manusia.
Dengan
mengenalkan diri melalui penjelasan-Nya itu, maka jika ada orang yang bertanya:
siapakah Allah itu? Jawabanya cukup sederhana: “Katakanlah, Dia lah Allah,
yang Maha Esa, Allah adalah tuhan yang bergantung kepadan-Nya segala sesuatu.
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang
setara dengan-Nya” (QS. AL-Ikhlas:1-4)
Contoh penjelasan di atas ini menerangkan bagaiman allah
memperkenalkan diri-Nya kepada kita selaku ciptaan tuhan yang lebih semopurna
dengan ciptaan tuhan lain-Ny. Yakni dengan menyatakan sifat-sifat keagungan dan
kesempurnaan-Nya, dan menafikkan segala bentuk kekurangan yang menyangkut
diri-Nya. Dan cara seperti itu merupakan salah satu cara mencucikan,
mengagungkan, dan memujin-Nya.[4]
Pengertian & Jumlah Al-Asma’ Al-Husna
Menurut bahasa,
Asmaul Husna berasal dari kata Asma / ism yang
artinya nama dan Husna artinya baik, mulia, agung. Sedangkan menurut istilah ,
Asmaul Husna adalah nama-nama atau sebutan Allah yang baik. Jadi, Al-Asma’ Al-Husna yaitu
nama-nama yang baik. Dari penjelasan pengertian ini Asmaul Husna
hanya pantas dimiliki Allah, sesuai kebesaran dan keagungan-Nya. Walaupun ada sebagian manusia yang
mempunyai nama seperti Asmaul Husna. Namun hal itu hanyalah
kesamaan nama saja. Sedangkan nama-nama baik manusia sangat banyak
kelemahannya, tidak sesuai dengan keadaannya. Disisi lain, jumlah Al-Asma’ Al-Husna berjumlah
sembilan puluh sembilan.
Rasulullah
S.A.W telah mengabarkan kepada seluruh ummatnya bahwa Allah mempunyai sembilan
puluh sembilan nama, dan barang siapa yang dapat menghafal dan menghitung, akan
masuk surga.
Dalam
Shahih Bukhari dari Abu Hurairah diriwayatkan: Rasulullah S.A.W bersabda, “Sesungguhnya
Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa
yang menghitungnya akan masuk surga,” (HR. Bukhari: 2736)
Dalam penjelasan di atas, bisa disimpulkan
bawah kita diperintahkan Allah untuk berdoa dan dengan menyebut nama-nama-Nya.
Dalam arti mengajak untuk menyesuaikan kandungan permohonan dengan sifat yang
disandang Allah swt.
Hikmah Memahami al-Asma al-Husna
Memahami nama-nama Allah atau Asmaul Husna berserta
artinya sangatlah penting untuk dipelajari dan sangat dianjurkan
bagi ummat muslim baik dari kalangan santri,
pelajar ataupun orang-orang yang sudah dewasa. Satu
Pahala besar kalau kita hafal dan bisa mengamalkan serta menghayati isi
kandungan Asmaul husna.
Hikmah mengenal dan memahami Al-Asma’ Al-Husna banyak yang bisa kita peroleh, kalau
di tulis tidak akan habis sampai akhir zaman. Namun dalam artikel ini ada sejumlah hikam
Al-Asma’ Al-Husna yang disebutkan. Insya Allah yang
mengamalkan Al-Asma’
Al-Husna menjadi berkah kehidupannya serta tercukupi
segala hajatnya di dunia dan di akhirat. Bahkan hadits nabi di atas, menyebutkan
akan dijamin masuk surga bagi yang menghafal dan mengamalkan Asmaul Husna. [5]
Hikma Al-Asma’ Al-Husna salah satunya sebagai berikut:
a. Mengenal Allah akan mendorong kita untuk
mencintai dan takut kepada-Nya, berharap serta ikhlas dalam beramal kepada-Nya.
Ini merupakan inti kebahagiaan seorang hamba.
b. Mengenal Allah melalui nama-nama-Nya yang
mulia dapat menambah keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.
c. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluknya agar
mereka mengenal-Nya dan menyembah-Nya
d. Mengetahui nama-nama Allah yang mulia merupakan
landasan ilmu atas segala sesuatu yang diketahui.
e. Dengan mengingat, menyebut, serta merasakan
kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, niscaya Allah akan memberikan
kedamaian dan sebagaimana janji-Nya, kelak kita akan masuk surga. [6]
Perbedaan al-Asma’ al-Husna dengan
Sifat Wajib Bagi Allah
Sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang ada pada Zat Allah
sebagai kesempurnaan bagi-Nya. Allah adalah Khaliq, Zat yang memiliki sifat
yang tidak mungkin sama dengan sifat-sifat yang dimiliki makhluk-Nya, Zat Allah tidak
bisa dibayangkan sebagaimana bentuk, rupa dan ciri-ciri-Nya. Begitu juga
sifat-sifat-Nya, tidak bisa
disamakan dengan sifat-sifat makhluk.
Sifat-sifat Allah adalah sifat sempurna
yang yang tidak terhingga bagi Allah. Sifat-sifat Allah wajib bagi setiap
muslim mempercayai bahwa terdapat beberapa sifat kesempurnaan yang tidak
terhingga bagi Allah. Maka, wajib juga dipercayai akan sifat wajib Allah yang dua
puluh. dan perlu
diketahui sifat yang
mustahil bagi Allah merupakan lawan kata sifat wajib. [7]
Sementara Al-Asma’ Al-Husna, seperti pembahasan di ataas Al-Asma’
Al-Husna merupakan nama-nama yang dimiliki Allah sebagai bukti
keagungan dan kemuliaan-Nya. Di dalam al-Qur’an nama-nama yang baik dijelaskan
pada Qs. Al-A’raf 7: 180 sebagai berikut :
وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي
أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Hanya
milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran
dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah
mereka kerjakan.” (Qs. Al-A’raf/7: 180)
Memahami al-Ghffar, al-Ghafur, al-Afuw, al-Tawwab
Allah Al-Ghaffaar adalah zat yang Maha
pengampun, yaitu memberikan kampunan kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat dari
dosa-dasa yang diperbuatanya, tetapi dengan satu syarat tidak boleh diulangi
lagi perbuatan dosa tersebut.
Al-Ghaffaar juga memiliki arti menutupi, Allah
Al-Ghaffaar selain mengampuni dosa-dosa hamba-Nya juga menutupi aib dan
kesalahan hamba-Nya. Seandainya dosa dan kesalahan kita tidak ditutupi oleh
Allah, maka kita akan mengalami kesulitan hidup, kita juga tidak dapar
bersosialisasi dengan masyarakat karena semua orang melihat keburukan kita
denhan jelas.
Manusia hidup di dunia tidak lepas dari khilaf
dan dosa. Oleh karena itu menutupi aib keluarga, saudara, tetangga dan teman
salah satu cara yang sangat sopan. Dan prilaku seperti insyaallah mendapatkan
balasan dari Allah dengan menutipi aib kita sendiri. Allah telah menutupi aib
kita dari pandangan manusia. Oleh karena nya kita dilarang membuka aib orang
lain mapun diri sendiri. [8]
Kata Al-Ghaffar terambill dari kata “ghafara” yang
berarti “menutup”. Ada yang berpendapat dara kata “Alghafaru” yakni sejenis
tumbuhan yang digunakan mengobati luka. Jika pendapat pertama yang dipilih,
maka Allah Ghaffar berarti antara lain, Ia menutupi dosa-dosa hamba-Nya
karena kemurahan dalam anugerah-Nya, sedangkan bila yang kedua, maka ini
bermakna Allah menganugerahi hamba-Nya penyesalan atas dosa-dosa, sehingga
penyesalan berakibat kesembuhan dalam hal ini adalah terhapusnya dosa.
Dalam Al-qur’an kata Ghaffar
terulang sebanyak lima kali, ada yang berdiri sendiri, seperti dalam Q.s. Nuh 71: 10 yang mengabadikan ucapan
Nabi Nuh A.s. kepada kaumya, “Beristighfarlah kepada tuhan-Mu sesungguhnya
Dia senentiasa ghaffara” dan dalam Q.s. Thaha 20: 38, “Sesungguhnya Aku
Ghuygaffar bagi yang bertaubat, percaya dan beramal shaleh, lalu memperoleh
hidayat”. Tiga lainya dirangkaikan
dengan sifat AZIZ yang mendahulinya. Yag dirangkaikan ini, dikemukakan bukan
dalam konteks pengampunan dasa. Ini memberi kesan bahwa Allah Ghaffar, bukan
hanya menutupi kesalahan dan dosa-dosa hamban-Nya, tetapi yang ditutupi-Nya
itu, dapat mencakup banyak hal selain dosa.[9]
Allah Al-Ghafuur adalah zat yang Maha
Pengampun, yaitu Allah mengampuni terhadap hamban-Nya yang bersalah, tetapi
dengan satu syarat tidak boleh diulangi lagi perbuatan dosa tersebut. Allah berfirman
dalam Al-Qur'an yang artinya: Katakanlah:
" Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas
terhadap dari mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alla.
Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-desa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang
Maha pengampun lagi Maha penyayang." (QS. Az-Zumar
(39) : 53)
Barang siapa yang membaca Ya Ghafuur
sebanyak-banyaknya dan dijadikan suatu amalan yang rutin setalah shalat fhardu,
maka Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya dan juga akan dijauhkan dari
kesulitan hidup. Bagi orang yang terserang penyakit kepala dan demam lalu ia membaca
Yaa Ghafuur, maka dengan seizini Allah, ia akan sembuh dari penyakit yang
dideritanya itu. Banyak mengulang-ulang nama Allah Al-Ghafuur ini juga dapat
menghilangkan penyakit was-was.[10]
Kata Al-Ghafur sama dengan Al-Ghaffar jika ditinjau
dari akar katanya yakni “ghafara”, dengab segala makna yang telah
diuraikan di atas. Dalam Al-qur’an kata Ghafur terulang sebanyak 91
kali, jumlah ini jauh lebih banyak dari Al-Ghaffar yang hanya terulang
sebanyak lima kali. Pada umumnya sifat Allah ini dirangkaikan dengan
sifat-sifat-Nya yang lain, khusunya Ar-Rahim. Selebihnya dirangkaikan
dengan Halim, Afuw dan lain-lain serta hanya dua yang berdiri
sendiri. Perangkainya dengan Ar-Rahim,
memberikan kesan bahwa pengampunan dan anugerah-Nya yang dicukup oleh
pengertianya sifat ini tidak terlepas dari rahmat kasih-Nya.
Banyaknya disebut sifat Al-Ghafur dalam Al-qur’an memberi
kesan bahwa Allah membuka pintu seluas-luanya bagi hamba-Nya untuk bermohon.
Bahkan secara tegas dinayatakan, “ Allah mengajak ke surga dan
pengampunan-Nya atas izin-Nya” (Q.s. Al-Baqarah 2 : 221). Perhatikan
bagaiman ayat ini, di samping menegaskan bahwa “ Allah mengajak” dan menguatkan
ajakan itu dengan pernyataan “ atas izin-Nya”, sehingga terasa benar bahwa ini
adalah ajakan yang sangat serius. Di samping itu memberikan kesan bahwa langkah
yang diambil oleh seseorang menuju Allah bukan hanya mendorong, sebagaiman
firma-Nya, “bersegeralah kamu kepada
ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Q.s. Ali Imran 3 : 133), tetapi
juga menyiapkan situasi kejiwaan yang dapat mengantar manusia meraih
pengampunan.
Sifat Allah yangt terambil dari akar klangnyata adalah Ghafur, Ghaffar
dan Ghafir. Ibu Al-Arabi mengemukakan beberapa pendapat menyangkut
perbedaan kata-kata tersebut. Ghafir
adalah “pelaku”. Maksudnya ia sekedar menetapkan adanya sifat ini pada sesuatu,
tanpa memandang ada tidaknya yang diampuni atau ditutupi aib dan kesalahanya.
Perbedaan antara Ghaffar dan Ghafur adalah Ghaffar yang menutupi aib,
kesalahan di dunia, sedangkan Ghafur menutupi aib di akhirat. Atau
Ghafur dapat juga berarti, banyak yang memberi maghfirah, sedangkan Ghaffar
mengandung arti, banyak dan berulangnya maghfirah serta kesempurnaan dan
keluasan cakupnya. Dengan demikian. Ghaffar lebih dalam dan kuat
kandungan dan makna-Nya dari Ghafir.
Imam Ghazali dalam membedakan sifat Ghafur dan Ghaffar menulis
bahwa keduanya bermakna sama, hanya saja Ghaffur mengandung semcam mubalagha
atau kelebihan karena Al-Ghaffar menunjukkan mubalagha dalam
maghfirah (pengampunan menyeluruh / penutupun yang rapat) di samping
berulang-ulangnya hal tersebut, sedangkan Ghafur menunjukkan kepada
sempurna dan pengampunan-Nya hingga mencapai puncak tertinggi dalam maghfirah. [11]
Allah Al- Afuw terambil dari akar kata yang
terdiri dari huruf-huruf ain, fa, dan wauw. Maknanya berkisar
oada dua hal, yaitu meninggal sesuatu dan memintanya, dari sini lahir kata afwu
yang berarti meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah atau dengan kata
lain memaafkan. Perlindungan Allah dari keburukan, juga dinamai “alfiat”.
Perlindungan mengandung makna “ketertutupan”. Kata afwu juga diartikan
“menutupi”, bahkan dari rangkaian ketiga huruf di atas juga lahir makna
terhapus atau habis tiada berkas, karena yang terhapus dan habis tidak terbekas
pasti ditinggalkan. Selanjutnya juga bermakna “kelebihan”, karena yang
berlebihan seharusnya tidak ada dan tinggalkan, yakni dengan memberi siapa yang
memintanya. Dalam beberapa kamus dinyatakan bahwa pada dasarnya kata afwu
berarti menghapus dan membinasakan serta mencabut akar sesuatu.
Dalam Al-qu’an kata afwu dalam berbagai bentuknya ditemukan
sebanyak 35 kali dan dengan berbagai makna. Kat afuw ditemukan sebanyak
tiga kali, di mana kesemuanya menunjukkan kepada Allah. Selain itu ditemukan
juga sekian banyak kata kerja masa lampau, masa kini dan datang yang pelakunya
adalah Allah, di samping itu pelakunya manusia.
Allah adalah Al-Afuw yang menghapus kesalahan hamba-hamb-Nya
serta memaafkan kesalahan mereka. Sifat ini mirip dengan sifat Al-Ghafu.
Hanya saja menurut Imam Ghazal, pemaafan Allah lebih tinggi nilainya dari
maghfirah. Bahkan kata afwu, mengandung makna “menghapus, mencabut akar
sesuatu, membinasakan”, sedangkan kata ghafur terambil dari akar kata
yang berarti “munutup”, sesuatu yang ditutp, pada hakikatnya tetap wujud, hanya
tidak terlihat, sedangkan yang dihapus, hilang, kalaupun ada yang tersisa,
paling hanya beks-bekasnya.[12]
Al- Tawwab adalah salah
satu nama indah Allah yang diperkenalkan kapada hamba-hamba-Nya. Al-Tawab yang
berarti menerima taubat hamba-hamba-Nya. Allah berfirman yang artinya:
"Dialah yang menerima taubat dari ham-hamba-nya." (QS. Asy-Syura:
25)
Allah sangat menyukai hamba-Nya yang suka
bertaubat. Saat kita mengulangi dosa yanh sama, Allah masih mengampuni kita.
Dosa yang tidak diampuni Allah adalah syirik atau menyekutukan Allah. Allah
tidak menyukai hamba-Nya yang berputus asa dari rahmat-Nya. [13]
Dan Allah ingin agar hamba-Nya mengetahui
bahwa Dia akan selalu menerima taubat mereka. " yang mengampuni dosa dan
menerima taubat lagi keras hukuman-NYa, yang mempunyai karunia. Tiada tuhan
selain dia. Hanya kepada-Nya lah kembali (semua makhluk)." (QS. At-Taubah:104)
Analisis Materi Al-Asma’ Al-Husna Di
SMP
Analisis
terhadap materi Al-Asma’ Al-Husna untuk jenjang
SMP, mempunyai maksud dan tujuan untuk mengantar siswa menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa. Namun maksud tersebut
umumnya tidak terjabarkan dalam pengorganisasian materi
yang langsung dihadirkan di kelas untuk dibahas bersama siswa.
Demikian pula standar kompetensi yangdiharapkan dicapai siswa juga tidak
mencantumkan kemampuan dalam ber-interaksi dan antara siswa.
Mata pelajaran atau materi yang memiliki tujuan harus seiring dan sejalan dengan
tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI yang menyaampaikan materi Al-Asma’
Al-Husna. Diberikannya mata pelajaran itu, khususnya di
SMP, bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang beriman
dan bertakwa kepada Allah Swt, menegnalkan sang pencipta melalui
nama-nama dan sifat-Nya. Disamping itu, materi Al-Asma’ Al-Husna
disampaikan kepada siswa yang sudah memiliki pengetahuan yang
cukup tentang ketahudan dan agama Islam, terutama sumber
ajaran dan sendi-sendi Islam lainnya, sehingga dapat dijadikan
bekal untuk memelajari berbagai bidang ilmu atau mata
pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif
yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran
tersebut[14]
Strategi Dan Problema Pembelajaran
Al-Asma’ Al-Husna Di SMP
Tugas guru dalam pembelajaran PAI dalam pembahasan Al-Asma’ Al-Husna di SMP tidak terbatas
pada penyampaian materi kepada siswa. Sesuai
kemajuan dan tuntutan zaman, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami siswa dengan berbagai
keunikannya agar mampu membantu mereka dalam menghadapi kesulitan belajar. Guru
dituntut memahami berbagai model pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing
siswa secara optimal.
Banyak cara mengajar yang telah diterapkan
oleh guru dalam pembelajaran tetapi hanya sedikit yang efektif (tepat sasaran).
Tidak efektifnya suatu strategi dapat disebabkan oleh beragamnya siswa yang ada
di dalam suatu kelas. Keberagaman dan kehadiran orang lain dalam belajar akan
melahirkan kebutuhan sosial. Oleh karena itu, siswa harus mampu bekerjasama dan
membangun interaksi yang baik antar sesama mereka agar hasil pembelajaran
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Keberhasilan suatu pembelajaran dapat diukur
dari kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran. Kriteria keberhasilan
pembelajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran
yang disampaikan oleh guru. Di dalam kelas, pembelajaran dikatakan berhasil
apabila sebagian besar siswa memahami pelajaran dengan baik.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru harus
memiliki strategi agar siswa dapat belajar sacara efektif dan efesien. Salah satu
langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguashi tehnik-tehnik
penyajian atau biasanya disebut metode mengajar.[15]
Dalam menyampaikan materi pelajaran dapat selesai
sesuai dengan waktu yang ditentukan, tetapi ada beberapa problem yang timbul:
a. Untuk
menyampaikan materi pengajaran aqidah kepada anak, guru harus dapat menjelaskan
sejelas mungkin.
b. Input
siswa yang bervariasi menjadi masalah bagi guru dalam memberikan penjelasan
agar dapat diterima siswa secara menyeluruh.
c. Ketersediaan
waktu dalam penyampaian materi pelajaran pengajaran
Materi yang disampaikan, yaitu 2 jam dalam satu
minggu. Sehingga materi pelajaran yang disampaikan hanya mengejar target,
imbasnya pemahaman akidah akhlak pada siswa terhambat. Melihat pelaksanaan
kegiatan pengajaran tersebut diatas tampak bahwa metode pengajaran yang
digunakan adalah ceramah, cerita, tanya jawab dan kadang-kadang diskusi.[16]
Penutup
“Hanya milik allah asmaul husna,
makabermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah
orang –orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti
mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A;raaf: 180)
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt, karena berkat karunia, taufik dan
hidayah-Nya kami dapat dapat menyusun artikel ini. Salam sejahtera semoga
selalu dilimpahkan kepada rasulullah saw. Mudah-mudahan kita mendapatkan
syafaatnya. Amin.
DAFTAR
PUSTAKA
Penulis adalah mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana STAIN
Pamekasan
Fathir Muhammad, Dzikir Asmsul Husna (Jakarta Selatan:Adi
Bintang, 2015),
Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, Al-Asma’ Al-Husna
(Jakarta: Qisthi Press, Cetakan ke -17, Agustus 2010)
El-Bantanie
Syafii Muhammad, Rahasia Keajaiban Asmaul Husna, (Jakarta: PT. Wahyu
Media, 2009)
Aljauziyah, Ibnul Qoyyim. Asmaul Husna,
(Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2008)
Syaikh Al-Utsaimin Sholeh bin Muhammad, Ai-Qawa;idil Mutsla,
memahami nama allah dan sifat Allah, (Jogjakarta: Media hidayah, 2003)
Wawancara dengan Guru SMP Darun Najah Pasongsongan Bapak hermanto,
S.Pd.I pada tanggal 28 Februari 20016
Wawancara dengan Guru SMP Darun Najah Pasongsongan Bapak hermanto,
S.Pd.I pada tanggal 27 Februari 20016
[1] Penulis adalah
mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana STAIN Pamekasan
[2] Fathir
Muhammad, Dzikir Asmsul Husna (Jakarta Selatan:Adi Bintang, 2015), 3.
[3] Ibid.,
[4] Umar Sulaiman
al-Asyqar, Al-Asma’ Al-Husna (Jakarta: Qisthi Press, Cetakan ke -17,
2010), 3-5
[5] El-Bantanie Syafii Muhammad, Rahasia
Keajaiban Asmaul Husna, (Jakarta: PT. Wahyu Media, 2009), 11.
[7] Syaikh
Al-Utsaimin Sholeh bin Muhammad, Ai-Qawa;idil Mutsla, Memahami Nama Allah
Dan Sifat Allah, (Jogjakarta: Media hidayah, 2003), 21.
[8] Fathir
Muhammad, Dzikir Asmsul Husna (Jakarta Selatan:Adi Bintang, 2015), 43.
[9]
qurais
[10] Fathir
Muhammad, Dzikir Asmsul Husna (Jakarta Selatan:Adi Bintang, 2015), 43.
[11]qurais.,171-172
[12]
Ibid 364-366
[13] Umar Sulaiman
al-Asyqar, Al-Asma’ Al-Husna (Jakarta: Qisthi Press, Cetakan ke -17,
2010), 273-274
[14] Wawancara
dengan Guru SMP Darun Najah Pasongsongan Bapak hermanto, S.Pd.I pada tanggal 28
Februari 2016
[16] Wawancara
dengan Guru SMP Darun Najah Pasongsongan Bapak hermanto, S.Pd.I pada tanggal 27
Februari 20016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar