Kamis, 05 Mei 2016

MATERI AL-ASMA’ AL-HUSNA DI SMP

MATERI AL-ASMA’ AL-HUSNA DI SMP
MOH. RIDWAN[1]

ABSTRAK: Mengenal Allah adalah pelajaran pertama yang harus diajarkan oleh setiap lembaga pendidikan islam atau negeri  kepada siswanya, karena mengenal tuhan yang maha Esa dan segala sifat-Nya merupakan hal yang utama yang harus dipahami dan diyakini oleh setiap manusia yang memilki kemampuan lebih dibandingkan dengan ciptaan tuhan lain-Nya.
Salah satu cara mengenalkan Allah kepada anak didik di SMP dengan memberikan pemahaman tentang nama-nam Allah yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.
Dalam agama Islam, Al-Aasma’ Al-Husna adalah nama-nama Allah yang agung. Asma berarti nama dan Husna berarti yang baik atau yang indah, jadi Asma'ul Husna adalah nama nama milik Allah yang baik dan indah. Para ulama telah membahas, mengkaji dan menafsirkan nama-nama Allah dan para ulama juga telah sepakat tentang jumlah Al-Asma’ Al-Huna yang mendekati delapan puluh. Namun ada sebagian yang menyebutkan bahwa nama Allah jumlahnya sembilan puluh sembilan nama, dan ada juga yang lain menyebutkan lebih dari jumlah yang disebutkan di atas. bahkan ada yang menyebutkan lebih dari dua ratus nama.
Kata Kunci    : Al-Asma’ Al-Husna
Pendahuluan
Mengenal dan mempelajari nama-nama Allah sangatlah agung, penuh dengan kebaikan dan keutamaan, serta mengandung beraneka ragam buah dan manfaatnya. Ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah ilmu yang paling mulia dan paling utama yang kedudukannya paling tinggi dan derajatnya paling agung. Mempelajari  serta mendalami makna Al-Asma` Al-Husna adalah amalan yang paling utama dan mulia.
Disamping itu, mengenal nama-nama Allah adalah dasar keimanan dan iman akan semakin bertambah, menambah kecintaan hamba kepada-Nya, mengenal nama-Nya juga akan membuat seorang hamba semakin mengagungkan dan membesarkan-Nya.
Siapa saja yang mengenal Allah, ia akan mengenal segala sesuatu selain Allah. Namun, siapa saja yang tidak mengenal-Nya. Maka Allah menjadikanya lupa pada diri sendir. Allah s.w.t berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.
Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (Al-Hasyr: 19)[2]
            Bagaimana dapat dekat dengan Allah secara lahir dan batin? Seluruh manusia bisa dipastikan sudah mengenal dengan peribahasa “Tak Kenal Maka Tak Sayang” bagitu juga dengan mencintai Allah dengan hati dan jiawa yang sesungguhnya. Manusia mengenal-Nya lebih dekat. Cara berkenalan dengan Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang dengan cara mengetahui nama-nama Allah yang memiliki sembilan puluh sembilana nama. Dengan menyebut nama nama Allah, kita akan merasa dekat dengan-Nya. Disamping itu, banyak manfaat yang diperoleh saat menyebut nama sang pencipta.[3]
            Namun meneganal Allah dengan menggunakan nalar dan tidak menggunakan wahyu Allah adalah cara yang tidak dibenarkan. Mengingat ukuran kebenaran yang melalui nalar mengenal-Nya tidak dapat dipertanggung jawabkan dengan benar. Dan sebagian besar penjelasan tentang nama-nama Allah yang tidak bersandar pada wahyu tidak bisa diterima nalar sehat. Dan Allah tahu kekurangan manusi itu, dengan kekurangan tersebut. Allah mengutus rasul, dengan menurunkan kitab yang bisa membimbing dan mengenalkan diri-Nya. Dalam kitab-kitab tersebut dijelaskan tentang sang pencipta yang sesungguhnya.
            Orang-orang yang berakal sehat tentu akan akan meyakini bahwa Allah maha sempurna, ,mencakup setiap hal, dan tidak ada suatupun yang tersembunyi bagi-Nya. Orang yang sadar tentu juga meyakini bahwa hanya Allah lah yang mengetahui secara utuh tentang diri-Nya.
            Allah telah mengutus Rasul-Nya bagar menyampaikan kepada seluiruh manusia, bahwa semua wahyu yang Allah turunkan kepadanya telah terangkum dalam satu kalimat pendek di dalam kita suci Al-qur’an yang artinya: “Tuhanmu Adalah Tuhan Yang Maha Esa”. (QS. AL-Anbiya’:108)
            Selain itu, Allah juga mengenalkan tentang diri-Nya melalui penjelasa-Nya dengan bukti-bukti yang mampu melumpuhkan akal dan mengiringi hati nurani untuk memahaminya tentang dzat dan keagungan-Nya, hal itu hanya untuk mengenalkan dan menunjukkan kebenaran dengan sejelas-jelasnya kepada seluruh manusia.
            Dengan mengenalkan diri melalui penjelasan-Nya itu, maka jika ada orang yang bertanya: siapakah Allah itu? Jawabanya cukup sederhana: “Katakanlah, Dia lah Allah, yang Maha Esa, Allah adalah tuhan yang bergantung kepadan-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya” (QS. AL-Ikhlas:1-4)  
            Contoh penjelasan di atas ini menerangkan bagaiman allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita selaku ciptaan tuhan yang lebih semopurna dengan ciptaan tuhan lain-Ny. Yakni dengan menyatakan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya, dan menafikkan segala bentuk kekurangan yang menyangkut diri-Nya. Dan cara seperti itu merupakan salah satu cara mencucikan, mengagungkan, dan memujin-Nya.[4]
Pengertian & Jumlah Al-Asma’ Al-Husna
            Menurut bahasa, Asmaul Husna berasal dari kata Asma / ism yang artinya nama dan Husna artinya baik, mulia, agung. Sedangkan menurut istilah , Asmaul Husna adalah nama-nama atau sebutan Allah yang baik. Jadi, Al-Asma’ Al-Husna yaitu nama-nama yang baik. Dari penjelasan pengertian ini Asmaul Husna hanya pantas dimiliki Allah, sesuai kebesaran dan keagungan-Nya. Walaupun ada sebagian manusia yang mempunyai nama seperti Asmaul Husna. Namun hal itu hanyalah kesamaan nama saja. Sedangkan nama-nama baik manusia sangat banyak kelemahannya, tidak sesuai dengan keadaannya. Disisi lain, jumlah Al-Asma’ Al-Husna berjumlah sembilan puluh sembilan.
Rasulullah S.A.W telah mengabarkan kepada seluruh ummatnya bahwa Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, dan barang siapa yang dapat menghafal dan menghitung, akan masuk surga.
Dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah diriwayatkan: Rasulullah S.A.W bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya akan masuk surga,” (HR. Bukhari: 2736)
                Dalam penjelasan di atas, bisa disimpulkan bawah kita diperintahkan Allah untuk berdoa dan dengan menyebut nama-nama-Nya. Dalam arti mengajak untuk menyesuaikan kandungan permohonan dengan sifat yang disandang Allah swt.
Hikmah Memahami al-Asma al-Husna
Memahami nama-nama Allah atau Asmaul Husna berserta artinya sangatlah penting untuk dipelajari dan sangat dianjurkan bagi ummat muslim baik dari kalangan santri, pelajar ataupun orang-orang yang sudah dewasa. Satu Pahala besar kalau kita hafal dan bisa mengamalkan serta menghayati isi kandungan Asmaul husna.
Hikmah mengenal dan memahami Al-Asma’ Al-Husna banyak yang bisa kita peroleh, kalau di tulis tidak akan habis sampai akhir zaman. Namun dalam artikel ini ada sejumlah hikam Al-Asma’ Al-Husna yang disebutkan. Insya Allah yang mengamalkan Al-Asma’ Al-Husna menjadi berkah kehidupannya serta tercukupi segala hajatnya di dunia dan di akhirat. Bahkan hadits nabi di atas, menyebutkan akan dijamin masuk surga bagi yang menghafal dan mengamalkan Asmaul Husna. [5]  Hikma Al-Asma’ Al-Husna salah satunya sebagai berikut:
a.       Mengenal Allah akan mendorong kita untuk mencintai dan takut kepada-Nya, berharap serta ikhlas dalam beramal kepada-Nya. Ini merupakan inti kebahagiaan seorang hamba.
b.      Mengenal Allah melalui nama-nama-Nya yang mulia dapat menambah keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.
c.       Sesungguhnya Allah menciptakan makhluknya agar mereka mengenal-Nya dan menyembah-Nya
d.      Mengetahui nama-nama Allah yang mulia merupakan landasan ilmu atas segala sesuatu yang diketahui.
e.       Dengan mengingat, menyebut, serta merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, niscaya Allah akan memberikan kedamaian dan sebagaimana janji-Nya, kelak kita akan masuk surga. [6]
Perbedaan al-Asma’ al-Husna dengan Sifat Wajib Bagi Allah
Sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang ada pada Zat Allah sebagai kesempurnaan bagi-Nya.  Allah adalah Khaliq, Zat yang memiliki sifat yang tidak mungkin sama dengan sifat-sifat yang dimiliki makhluk-Nya, Zat Allah tidak bisa dibayangkan sebagaimana bentuk, rupa dan ciri-ciri-Nya. Begitu juga sifat-sifat-Nya, tidak bisa disamakan dengan sifat-sifat makhluk.
Sifat-sifat Allah adalah sifat sempurna yang yang tidak terhingga bagi Allah. Sifat-sifat Allah wajib bagi setiap muslim mempercayai bahwa terdapat beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah. Maka, wajib juga dipercayai akan sifat wajib Allah yang dua puluh. dan perlu diketahui sifat yang mustahil bagi Allah merupakan lawan kata sifat wajib. [7]
Sementara Al-Asma’ Al-Husna, seperti pembahasan di ataas Al-Asma’ Al-Husna merupakan nama-nama yang dimiliki Allah sebagai bukti keagungan dan kemuliaan-Nya. Di dalam al-Qur’an nama-nama yang baik dijelaskan pada Qs. Al-A’raf 7: 180 sebagai berikut :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-A’raf/7: 180)


             

Memahami al-Ghffar, al-Ghafur, al-Afuw, al-Tawwab
Allah Al-Ghaffaar adalah zat yang Maha pengampun, yaitu memberikan kampunan kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat dari dosa-dasa yang diperbuatanya, tetapi dengan satu syarat tidak boleh diulangi lagi perbuatan dosa tersebut.
Al-Ghaffaar juga memiliki arti menutupi, Allah Al-Ghaffaar selain mengampuni dosa-dosa hamba-Nya juga menutupi aib dan kesalahan hamba-Nya. Seandainya dosa dan kesalahan kita tidak ditutupi oleh Allah, maka kita akan mengalami kesulitan hidup, kita juga tidak dapar bersosialisasi dengan masyarakat karena semua orang melihat keburukan kita denhan jelas.
Manusia hidup di dunia tidak lepas dari khilaf dan dosa. Oleh karena itu menutupi aib keluarga, saudara, tetangga dan teman salah satu cara yang sangat sopan. Dan prilaku seperti insyaallah mendapatkan balasan dari Allah dengan menutipi aib kita sendiri. Allah telah menutupi aib kita dari pandangan manusia. Oleh karena nya kita dilarang membuka aib orang lain mapun diri sendiri. [8]
Kata Al-Ghaffar terambill dari kata “ghafara” yang berarti “menutup”. Ada yang berpendapat dara kata “Alghafaru” yakni sejenis tumbuhan yang digunakan mengobati luka. Jika pendapat pertama yang dipilih, maka Allah Ghaffar berarti antara lain, Ia menutupi dosa-dosa hamba-Nya karena kemurahan dalam anugerah-Nya, sedangkan bila yang kedua, maka ini bermakna Allah menganugerahi hamba-Nya penyesalan atas dosa-dosa, sehingga penyesalan berakibat kesembuhan dalam hal ini adalah terhapusnya dosa.  
  Dalam Al-qur’an kata Ghaffar terulang sebanyak lima kali, ada yang berdiri sendiri, seperti dalam           Q.s. Nuh 71: 10 yang mengabadikan ucapan Nabi Nuh A.s. kepada kaumya, “Beristighfarlah kepada tuhan-Mu sesungguhnya Dia senentiasa ghaffara” dan dalam Q.s. Thaha 20: 38, “Sesungguhnya Aku Ghuygaffar bagi yang bertaubat, percaya dan beramal shaleh, lalu memperoleh hidayat”.  Tiga lainya dirangkaikan dengan sifat AZIZ yang mendahulinya. Yag dirangkaikan ini, dikemukakan bukan dalam konteks pengampunan dasa. Ini memberi kesan bahwa Allah Ghaffar, bukan hanya menutupi kesalahan dan dosa-dosa hamban-Nya, tetapi yang ditutupi-Nya itu, dapat mencakup banyak hal selain dosa.[9]
Allah Al-Ghafuur adalah zat yang Maha Pengampun, yaitu Allah mengampuni terhadap hamban-Nya yang bersalah, tetapi dengan satu syarat tidak boleh diulangi lagi perbuatan dosa tersebut. Allah berfirman dalam Al-Qur'an  yang artinya: Katakanlah: " Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dari mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alla. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-desa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha pengampun lagi Maha penyayang." (QS. Az-Zumar (39) : 53)
Barang siapa yang membaca Ya Ghafuur sebanyak-banyaknya dan dijadikan suatu amalan yang rutin setalah shalat fhardu, maka Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya dan juga akan dijauhkan dari kesulitan hidup. Bagi orang yang terserang penyakit kepala dan demam lalu ia membaca Yaa Ghafuur, maka dengan seizini Allah, ia akan sembuh dari penyakit yang dideritanya itu. Banyak mengulang-ulang nama Allah Al-Ghafuur ini juga dapat menghilangkan penyakit was-was.[10]
Kata Al-Ghafur sama dengan Al-Ghaffar jika ditinjau dari akar katanya yakni “ghafara”, dengab segala makna yang telah diuraikan di atas. Dalam Al-qur’an kata Ghafur terulang sebanyak 91 kali, jumlah ini jauh lebih banyak dari Al-Ghaffar yang hanya terulang sebanyak lima kali. Pada umumnya sifat Allah ini dirangkaikan dengan sifat-sifat-Nya yang lain, khusunya Ar-Rahim. Selebihnya dirangkaikan dengan Halim, Afuw dan lain-lain serta hanya dua yang berdiri sendiri. Perangkainya dengan  Ar-Rahim, memberikan kesan bahwa pengampunan dan anugerah-Nya yang dicukup oleh pengertianya sifat ini tidak terlepas dari rahmat kasih-Nya.
Banyaknya disebut sifat Al-Ghafur dalam Al-qur’an memberi kesan bahwa Allah membuka pintu seluas-luanya bagi hamba-Nya untuk bermohon. Bahkan secara tegas dinayatakan, “ Allah mengajak ke surga dan pengampunan-Nya atas izin-Nya” (Q.s. Al-Baqarah 2 : 221). Perhatikan bagaiman ayat ini, di samping menegaskan bahwa “ Allah mengajak” dan menguatkan ajakan itu dengan pernyataan “ atas izin-Nya”, sehingga terasa benar bahwa ini adalah ajakan yang sangat serius. Di samping itu memberikan kesan bahwa langkah yang diambil oleh seseorang menuju Allah bukan hanya mendorong, sebagaiman firma-Nya,  “bersegeralah kamu kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Q.s. Ali Imran 3 : 133), tetapi juga menyiapkan situasi kejiwaan yang dapat mengantar manusia meraih pengampunan.
Sifat Allah yangt terambil dari akar klangnyata adalah Ghafur, Ghaffar dan Ghafir. Ibu Al-Arabi mengemukakan beberapa pendapat menyangkut perbedaan kata-kata tersebut.  Ghafir adalah “pelaku”. Maksudnya ia sekedar menetapkan adanya sifat ini pada sesuatu, tanpa memandang ada tidaknya yang diampuni atau ditutupi aib dan kesalahanya. Perbedaan antara Ghaffar dan Ghafur  adalah Ghaffar yang menutupi aib, kesalahan di dunia, sedangkan Ghafur menutupi aib di akhirat. Atau Ghafur dapat juga berarti, banyak yang memberi maghfirah, sedangkan Ghaffar mengandung arti, banyak dan berulangnya maghfirah serta kesempurnaan dan keluasan cakupnya. Dengan demikian. Ghaffar lebih dalam dan kuat kandungan dan makna-Nya dari Ghafir.
Imam Ghazali dalam membedakan sifat Ghafur dan Ghaffar menulis bahwa keduanya bermakna sama, hanya saja Ghaffur mengandung semcam mubalagha atau kelebihan karena Al-Ghaffar menunjukkan mubalagha dalam maghfirah (pengampunan menyeluruh / penutupun yang rapat) di samping berulang-ulangnya hal tersebut, sedangkan Ghafur menunjukkan kepada sempurna dan pengampunan-Nya hingga mencapai puncak tertinggi dalam maghfirah. [11]
Allah Al- Afuw terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf  ain, fa, dan wauw. Maknanya berkisar oada dua hal, yaitu meninggal sesuatu dan memintanya, dari sini lahir kata afwu yang berarti meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah atau dengan kata lain memaafkan. Perlindungan Allah dari keburukan, juga dinamai “alfiat”. Perlindungan mengandung makna “ketertutupan”. Kata afwu juga diartikan “menutupi”, bahkan dari rangkaian ketiga huruf di atas juga lahir makna terhapus atau habis tiada berkas, karena yang terhapus dan habis tidak terbekas pasti ditinggalkan. Selanjutnya juga bermakna “kelebihan”, karena yang berlebihan seharusnya tidak ada dan tinggalkan, yakni dengan memberi siapa yang memintanya. Dalam beberapa kamus dinyatakan bahwa pada dasarnya kata afwu berarti menghapus dan membinasakan serta mencabut akar sesuatu.
Dalam Al-qu’an kata afwu dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 35 kali dan dengan berbagai makna. Kat afuw ditemukan sebanyak tiga kali, di mana kesemuanya menunjukkan kepada Allah. Selain itu ditemukan juga sekian banyak kata kerja masa lampau, masa kini dan datang yang pelakunya adalah Allah, di samping itu pelakunya manusia.
Allah adalah Al-Afuw yang menghapus kesalahan hamba-hamb-Nya serta memaafkan kesalahan mereka. Sifat ini mirip dengan sifat Al-Ghafu. Hanya saja menurut Imam Ghazal, pemaafan Allah lebih tinggi nilainya dari maghfirah. Bahkan kata afwu, mengandung makna “menghapus, mencabut akar sesuatu, membinasakan”, sedangkan kata ghafur terambil dari akar kata yang berarti “munutup”, sesuatu yang ditutp, pada hakikatnya tetap wujud, hanya tidak terlihat, sedangkan yang dihapus, hilang, kalaupun ada yang tersisa, paling hanya beks-bekasnya.[12]
Al- Tawwab adalah salah satu nama indah Allah yang diperkenalkan kapada hamba-hamba-Nya. Al-Tawab yang berarti menerima taubat hamba-hamba-Nya. Allah berfirman yang artinya: "Dialah yang menerima taubat dari ham-hamba-nya." (QS. Asy-Syura: 25)
Allah sangat menyukai hamba-Nya yang suka bertaubat. Saat kita mengulangi dosa yanh sama, Allah masih mengampuni kita. Dosa yang tidak diampuni Allah adalah syirik atau menyekutukan Allah. Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berputus asa dari rahmat-Nya. [13]
Dan Allah ingin agar hamba-Nya mengetahui bahwa Dia akan selalu menerima taubat mereka. " yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-NYa, yang mempunyai karunia. Tiada tuhan selain dia. Hanya kepada-Nya lah kembali (semua makhluk)." (QS. At-Taubah:104)
Analisis Materi Al-Asma’ Al-Husna Di SMP
            Analisis terhadap  materi Al-Asma’ Al-Husna untuk jenjang SMP,  mempunyai maksud dan tujuan  untuk mengantar siswa menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa. Namun maksud tersebut umumnya tidak terjabarkan dalam pengorganisasian materi yang langsung dihadirkan di kelas untuk dibahas bersama siswa. Demikian pula standar kompetensi yangdiharapkan dicapai siswa juga tidak mencantumkan kemampuan dalam ber-interaksi dan antara siswa.
Mata pelajaran atau materi  yang memiliki tujuan harus seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI yang menyaampaikan materi Al-Asma’ Al-Husna.  Diberikannya mata pelajaran itu, khususnya di SMP, bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt, menegnalkan sang pencipta melalui nama-nama dan sifat-Nya. Disamping itu, materi Al-Asma’ Al-Husna disampaikan kepada siswa yang sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang  ketahudan dan agama Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk memelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut[14]
Strategi Dan Problema Pembelajaran Al-Asma’ Al-Husna Di SMP
Tugas guru dalam pembelajaran PAI dalam pembahasan Al-Asma’ Al-Husna di SMP tidak terbatas pada penyampaian materi kepada siswa. Sesuai kemajuan dan tuntutan zaman, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami siswa dengan berbagai keunikannya agar mampu membantu mereka dalam menghadapi kesulitan belajar. Guru dituntut memahami berbagai model pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing siswa secara optimal.
Banyak cara mengajar yang telah diterapkan oleh guru dalam pembelajaran tetapi hanya sedikit yang efektif (tepat sasaran). Tidak efektifnya suatu strategi dapat disebabkan oleh beragamnya siswa yang ada di dalam suatu kelas. Keberagaman dan kehadiran orang lain dalam belajar akan melahirkan kebutuhan sosial. Oleh karena itu, siswa harus mampu bekerjasama dan membangun interaksi yang baik antar sesama mereka agar hasil pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Keberhasilan suatu pembelajaran dapat diukur dari kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran. Kriteria keberhasilan pembelajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Di dalam kelas, pembelajaran dikatakan berhasil apabila sebagian besar siswa memahami pelajaran dengan baik.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar sacara efektif dan efesien. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguashi tehnik-tehnik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar.[15] 
Dalam menyampaikan materi pelajaran dapat selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan, tetapi ada beberapa problem yang timbul:
a.       Untuk menyampaikan materi pengajaran aqidah kepada anak, guru harus dapat menjelaskan sejelas mungkin.
b.      Input siswa yang bervariasi menjadi masalah bagi guru dalam memberikan penjelasan agar dapat diterima siswa secara menyeluruh.
c.       Ketersediaan waktu dalam penyampaian materi pelajaran pengajaran
Materi yang disampaikan, yaitu 2 jam dalam satu minggu. Sehingga materi pelajaran yang disampaikan hanya mengejar target, imbasnya pemahaman akidah akhlak pada siswa terhambat. Melihat pelaksanaan kegiatan pengajaran tersebut diatas tampak bahwa metode pengajaran yang digunakan adalah ceramah, cerita, tanya jawab dan kadang-kadang diskusi.[16]

Penutup
“Hanya milik allah asmaul husna, makabermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang –orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A;raaf: 180)
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt, karena berkat karunia, taufik dan hidayah-Nya kami dapat dapat menyusun artikel ini. Salam sejahtera semoga selalu dilimpahkan kepada rasulullah saw. Mudah-mudahan kita mendapatkan syafaatnya. Amin.





DAFTAR PUSTAKA
Penulis adalah mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana STAIN Pamekasan
Fathir Muhammad, Dzikir Asmsul Husna (Jakarta Selatan:Adi Bintang, 2015),
Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, Al-Asma’ Al-Husna (Jakarta: Qisthi Press, Cetakan ke -17, Agustus 2010)
El-Bantanie Syafii Muhammad, Rahasia Keajaiban Asmaul Husna, (Jakarta: PT. Wahyu Media, 2009)
Aljauziyah, Ibnul Qoyyim. Asmaul Husna, (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2008)
Syaikh Al-Utsaimin Sholeh bin Muhammad, Ai-Qawa;idil Mutsla, memahami nama allah dan sifat Allah, (Jogjakarta: Media hidayah, 2003)

Wawancara dengan Guru SMP Darun Najah Pasongsongan Bapak hermanto, S.Pd.I pada tanggal 28 Februari 20016
Wawancara dengan Guru SMP Darun Najah Pasongsongan Bapak hermanto, S.Pd.I pada tanggal 27 Februari 20016



[1] Penulis adalah mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana STAIN Pamekasan
[2] Fathir Muhammad, Dzikir Asmsul Husna (Jakarta Selatan:Adi Bintang, 2015), 3.
[3] Ibid.,
[4] Umar Sulaiman al-Asyqar, Al-Asma’ Al-Husna (Jakarta: Qisthi Press, Cetakan ke -17, 2010), 3-5
[5] El-Bantanie Syafii Muhammad, Rahasia Keajaiban Asmaul Husna, (Jakarta: PT. Wahyu Media, 2009), 11.
[6] Aljauziyah, Ibnul Qoyyim. Asmaul Husna, (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2008), 20.
[7] Syaikh Al-Utsaimin Sholeh bin Muhammad, Ai-Qawa;idil Mutsla, Memahami Nama Allah Dan Sifat Allah, (Jogjakarta: Media hidayah, 2003), 21.
[8] Fathir Muhammad, Dzikir Asmsul Husna (Jakarta Selatan:Adi Bintang, 2015), 43.
[9] qurais
[10] Fathir Muhammad, Dzikir Asmsul Husna (Jakarta Selatan:Adi Bintang, 2015), 43.
[11]qurais.,171-172
[12] Ibid 364-366
[13] Umar Sulaiman al-Asyqar, Al-Asma’ Al-Husna (Jakarta: Qisthi Press, Cetakan ke -17, 2010), 273-274
[14] Wawancara dengan Guru SMP Darun Najah Pasongsongan Bapak hermanto, S.Pd.I pada tanggal 28 Februari 2016
[15] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002),13.
[16] Wawancara dengan Guru SMP Darun Najah Pasongsongan Bapak hermanto, S.Pd.I pada tanggal 27 Februari 20016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar