Jumat, 22 April 2016

Teori Belajar Tuntas

Teori Belajar Tuntas (Mastery Learning)
Moh. Ridwan.[1]
Guru sebagai tenaga pendidik diharuskan memiliki kemampuan cerdas dan strategi  dalam memberikan pemahaman materi pelajaran terhadap seluruh siswa, hal ini perlau dilakukan dengan tujuan semua yang di sampaikan dikuasi. Di samping itu guru memiliki kawajiban untuk memperhatikan kemampuan siswa yang mengalami perbedaan, di dalam kelas terdapat dua kategori kemampuan siswa. Pertma siswa pendai atau cerdas dan tanggap terhadap pemahaman materi yang disampaikan guru, kategori yang kedua, siswa bodoh yang naluri berpikirnya masih membutuhkan keseriusan guru untuk lebih inten memberkan pemahaman lebih kepada mereka.
Perbedaan individu atau kemampuan siswa ini harus dipertimbangkan dalam strategi mengajar agar tiap siswa dapat berkembang sepenuhnya serta menguasi bahan pelajaran secara tuntas. Tentu guru memiliki tantangan sendiri untuk untuk dalam memberikan pemahaman agar seluruh siswa dapat memahami yang disampaikan.
Oleh karena itu, bila diinginkan hasil belajar pada seluruh siswa dapat mencapai taraf penguasaan penuh (Mastery), guru dapat menerapkan teori belajar tuntas (Mastery Learning). Munmgkin  dengan teori ini, materi pelajaran bisa terserap atau dipahami oleh seluruh siswa, dengan mengunakan pendekatan secara individu kepada anak didik.
Kata Kunci : Belajar Tuntas/Mastery Learning.
Pendahuluan
Tujuan proses mengajar belajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepanuhnya oleh seluruh siswa. Ini di sebut belajar tuntas atau penguasaan penuh yang dicapai oleh siswa.[2] Artinya dalam teori belajar tuntas ini guru memiliki peran penting terhadap keberhasilan siswa dalam memahami suatu meteri pelajaran. Peran ini tentu tidak mudah dilalaui oleh guru mengingat individual siswa berbeda. Sehingga dalam menyampaian meteri, guru harus memperhatikan kemampuan siswa supaya yang disampaikan tidak hanya dipahami sebagian siswa saja.
Undang-undang dasar 45 menginginkan agar setiap warganegara mendapatkan kesempatan belajar seluas-luasny. Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional (KPPN) mengemukakan agar pendidikan kita bersifat Semesta, Meyeluruh dan Terpadu. Semesta berarti bahwa pendidikan dinikmati oleh semua warganegara. Meyeluruh maksudanya agar ada mobilitas antara pendidikan formal dan non formal. Sehingga terbuka pendidikan seumur hidup bagi setiap warganegara indonesia.
Kemajuan siswa hanya dimungkinkan oleh perluasan pendidikan bagi setiap anggota bangsa itu. Pendidikan bukan lagi diperuntukkan bagi suatu golongan elit yang sangat terbats, tetapi bagi seluruh rakyat. Setiap pembatasan atau pengekengan akan berarti kerugian dan penghamburan bakat dan biaya.[3] Undang-undang ini sudah menegaskan kepada suluruh warganegara khusunya kepada guru agar tidak hanya memperhatikan kepada siswa yang dinilai lebih cerdas atau sebagian, tetapi seluruh siswa yang menjadi anak didiknya juga harus mendapatkan perhatian yang sama. Termasuk dalam proses belajar mengajar, pada proses belajar mengajar guru diharuskan peka terhadap kemampuan siswa. Hal itu supaya setiap siswa memahami materi yang disampaikan.
            Atas dasar itu, di dalam pengajaran memungkinkan bagi guru untuk menetapkan tingkat penguasaan belajar yang diharapkan dari setiap siswa sekitar belajar tuntas. Dengan menyediakan berbagai kemungkinan belajar dan kualitas pengajaran, guru harus dapat meyakinkan setiap siswa untuk mencapai taraf penguasaan penuh dalam beajar.[4] Pada prinsipnya strategi belajar mengajar merupakan keseluruhan proses yang harus ditempuh oleh seorang guru selaku tenaga pendidik dan siswa. Terkadang yang sering kita jumpai ada sebagian guru yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Namun guru juga butuh strategi khusus dan teori yang harus dilakukan dalam perose belajar mengajar sebagai panduan dan petunjuk dalam menyampaikan materinya. Misalnya menggunakan teori belajar tuntas, supaya setiap siswa benar-benar paham terhadap apa yang dsampaikan, dan teori ini mengupayakan setiap siswa paham dengan cara guru melakukan pendekatan secara individu.
            Dalam pelaksanaan belajar tuntas, bila siswa belum mencapai ketuntasan yang ditetapkan, siswa masih diberi program perbaikan sampai mencapai ketuntasan. Sebaliknya, para siswa telah mencapai ketuntasan yang ditetapkan, dapat diberi program pengayaan. Teori belajar tuntas ini berbeda dengan strategi belajar tradisional, belajar tradional tidak ada keharusan siswa mencapai taraf penguasaan tertentu, karena dalam strategi ini tidak menganal program perbaikan dan program pengayaan.[5]
Pengertian Belajar Tuntas (Mastery Learning)
            Diknas (2008) menjelaskan bahwa pembelajaran tuntas (Mastery Learning) dalam prose pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan siswa menguasi secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Pendekatan pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang betujuan untuk memotivasi siswa mencapai penguasaan terhadap kompetensi tertentu. Dengan menempatkan pembelajaran tuntas sebagai salah satu prinsip utama dalam mendukung pelaksanaanp kurikulum berbasis kompetensi.[6] Teori belajar tuntas ini salah satu petunjuk yang harus dilakukan guru bila menginginkan seluruh anak didiknya mencapai kompetensi yang ditentukan. Dan belajar tuntas ini merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh guru dengan maksud dan tujuan supaya siswa memahami materi yang disamapaikan.
            Pengertian belajar tuntas di atas ini tidak jauh beda dengan pengertian yang disampaikan oleh Muhammad Ali dalam bukunya “Guru Dalam Proses Belajar Mengajar” pengertian belajar tuntas dalam buku ini adalah belajar tuntas dapat diartikan sebagai penguasaan (hasil belajar) siswa secara penuh terhadap seluruh bahan yang dipelajari. Hal ini berlandaskan kepada suatu gagasan bahwa kebanyakan siswa dapat menguasi apa yang diajarkan di sekolah.
Menariknya, buku yang ditulis Muhammad Ali ini membandingkan pengertian belajar tuntas menurut Benjamin S Bloom (1963) dan Fred S Keller (1968). Bloom memandang matery sebagai kemampuan siswa untuk menyerap initi pengajaran yang telah diberikan ke dalam suatu keseluruhan. Sedangkan Keller memandang Mastery merupakan performence (penampilan) yang sempurna dalam sejumlah unit pelajaran tertentu.
Kedua pendangan ini nampaknya mempunyai perbedaan. Di satu pihak Bloom memandang mastery sebagai penguasaan penuh terhadap inti bahan pelajaran. Sementara di sisi lain Keller menganggap penguasaan tercermin dalam kemampuan performence pada unit-unit (kecil) bahan yang dipelajari.
 Namun demikian, dua pengertian yang disampaikan dua tokoh ini tidak berbeda. Kedua menganggap mastery sebagai kemampuan menguasi bahan pelajaran, adapun perbedaannya terletak pada langkah mencapai penguasaan itu. Bila hal ini dikaitkan dengan tujuan instruksional, penyerapan inti adalah pencapaian tujuan instruksional umum (TIU), sedangkan unit-unit bahan yang dimaksudkan adalah pencapaian tujuan instruksional khusus (TIK). Perbedaan pencapaian terletak pada penekanan pentingnya menempuh langkah melalui penguasaan TIK. Menurut Bloom yang terpenting adalah pencapaian TIU melalui kemampuan penyerapan inti bahan sesuai TIU. Sedangkan Keller menganggap pencapaian TIU ITU harus dicerminkan dalam penampilan seluruh hasil pencapaian TIK yang diajarkan dari TIU. Namun demikian, kedua  tokoh sependapat bahwa tujuan pengajaran sebenarnya adalah TIU, sedangkan TIK hanya merupakan langkah dalam mencapai TIU.[7]
Lahirnya Belajar Tuntas
            Perkambangan yang pesat dalam dunia pendidikan pada abad ke-20 ini membawa kita untuk mempertimbangkan suatu pandangan tentang kemampuan siswa yang dapat ditingkatkan semaksimal mungkin dengan usaha yang efektif dan efisien. Salah satu pandangan tentang kemampuan siswa tersebut dikemukakan oleh John B. Carrol pada tahun 1963, berdasarkan penemuanya mengenai medol belajar yaitu “Model of School Learning” model ini menguraikan faktor-faktor pokok yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Ia menyatakan bahwa bakat siswa untuk suatu pelajaran tertentu dapat diramalkan dari waktu yang disediakan.[8] John B. Carrol menyimpulkan bakat bukan diartikan sebagai kapasitas belajar tetapi sebagai kecepatan belajar atau laju belajar. Artinya, siswa yang berbakat tinggi akan dapat menguasai bahan pelajaran dengan cepat. Sedangkan siswa yang berbakat rendah akan menguasai bahan pelajaran dengan lambat. Jadi ringkasanya, John B Carrol berpendapat bahwa tingkat penguasaan bahan pelajaran adalah fungsi dari waktu yang digunakan secara sungguh-sungguh untuk belajar. Lamanya waktu belajar yang digunakan ditentukan oleh lamanya siswa mau mempelajari seuatu bahan mata pelajaran.[9]
Ciri-Ciri Balajar Mengajar dengan Prinsip Belajar Tuntas
Sistem belajar mengajar dengan prinsip belajar tuntas telah diterapkan sejak tahun 1920-an dan sampai 1930-an. Ciri-ciri belajar tuntas yang ada pada tahun tersebut antara lain adalah:
1.      Pengajaran didasarkan atas tujuan pendidikan yang telah rijantumkan terlebih dahulu.
 Ini berarti bahwa tujuan dan strategi belajar mengajaradalah agar hampir semua siswa atau semua siswa dapat mencapai tingkat penguasaan tujuan pendidikart. Jadi, baik cara belajar mengajar maupun alat evaluasi yang digunakan untuk mengat-ur keberhasilan siswa harus berhubungan erat dengan tujuan-tujuan pendidikan yang akan dicapai.
2.      Memperhatikan Perbedaan Individu
 Yang dimaksud dengan perbedaan di sini adalah perbedaan siswa dalam hal menerima rangsangan dan luar dan dan dalam dirmya serta laju belajarnya. Dalam hal ini pengembangan proses belajar mengajar hendaknya dapat disesuaikan dengan sensitivitas indra siswa. Jadi cara belajar mengajar yang hanya menggunakan satu macam metode dan sam macam media tidak dapat memberikan hasil yang diharapkan. Sebaliknya cara mengajar yang menggunakan multi metode dan multi media akan menghasilkan proses belajar yang bermutu dan relevan.
3.      Evaluasi Dilakukan Secara Kontinu dan Didasarkan atas Kriteria
 Evaluasi dilakukan secara kontinu (continous evaluation) ini diperlukan agar guru dapat menerima umpan balik yang cepat/segera, sering dan sistematis. Jadi evaluasi dilakukan pada awal selama dan pada akhir proses belajar mengajar berlangsung. Evaluasi berdasarkan kriteria mengenal dua macam bentuk, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Michael Scriven berhasil membedakan kedua macam bentuk evaluasi ini. Tes keberhasilan yang diberikan pada alhir unit-unit pelajaran dimasukkan ke dalam kategori tes sumatif. Tes sumatif ini dimaksudkan untuk mengetahui penguasaan total terhadap suatu pelajaran yang diberikan. Tes formatif adalah tes yang digunakan selama siswa mempelajari bahan pelajaran untuk menguasai tujuan instruksional yang telah ditentukan. Menurut Michael Scriven, evaluasi formatif mempunyai dua tujuan pokok:  Pertama, Untuk menemukan sampai seberapa jauh siswa telah menguasai bahan pelajaran. Dengan kata lain untuk menentukan bagian mana yang telah dikuasai dan bagian mana yang belum dikuasai siswa. Dan kedua, untuk melakukan penilaian cara mengajar yang direncanakan dan yang diterapkan itu telah cukup baik atau masih memerlukan perbaikan. [10]
4.      Menggunakan Program Perbaikan dan Program Pengayaan
Program perbaikan dan program pengayaan adalah sebagai akibat dan penggunaan evaluasi yang kontinu dan berdasarkan kriteria serta pandangan terhadap perbedaan kecepatan belajar mengajar siswa dan admmistrasi sekolah. Program perbaikan ditujukan kepada mereka yang belum menguasai tujuan instruksioflal tertentu, sedangkan program pengayaan diberikan kepada mereka yang telah menguasai unit pelajaran yang diberikan.
5.      Menggunakan Prinsip Siswa Belajar Aktif
Prinsip siswa belajar aktif memungkinkan siswa mendapatkan pengetahuan berdasarkan kegiatan-kegiata yang dilakukannya sendiri. Cara belajar mengajar demikian mendorong siswa untuk bertanya bila mengalami kesulitan, mencari buku-buku atau sumber-sumber lain untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Selain itu prinsip siswa belajar aktif dapat mengembangkan keterampilan kognitif, keterampilan “manual” kreativitas dan logika berpikir.
6.      Menggunakan Satuan Pelajaran yang Kecil
Cara belajar mengajar dengan menggunakan prinsip belajar tuntas menuntut pembagian bahan pengajaran menjadi unit yang kecil-kecil. Pembagian unit pelajaran menjadi bagian-bagian kecil ini sangat diperlukan guna dapat memperoleh umpan balik secepat mungkin. Dengan demikian guru dapat melakukan usaha perbaikan sendini mungkin.
Unit-unit yang kecil tersebut haruslah disusun secara berurutan dan yang mudah sampai ke yang sukar. Dengan perkataan lain unit yang mendahului merupakan pra-syarat bagi unit selanjutnya. Penyusunan semacam
ini akan mengurangi frekuensi pemberian tes pra-syarat. Secara ideal apabila dalam materi pelajaran yang terdapat dalam unit- unit pelajaran dapat disusun secara berurutan maka tes pras yarat hanyalah diberikan pada setiap permulaan semester.[11]
Strategi Belajar Tuntas
Strategi belajar tuntas dapat diterapkan secara tuntas sebagai upaya meningkatkan mutu pendkdikan, terutmna dalarn level mikro, yaitu mengernbangkan individu dalam proses pembelajaran cli kelas. Hal ini tidak menuntut perubahan besar-besaran baik dalam kurikulum maupunpembelajaran, tetapi yang penting adalah merubah strategi guru terutama berhubungan dengan waktu. Perhatian guru terhadap waktu bukan waktu yang butuhkan untuk mengajar melainkan waktu yang digunakan peserta didik untuk belajar sampal taraf penguasaan bahan sepenuhnya (belajar tuntas).[12] Siswa atau peserta didik baru dapat rnelangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar rnenguasai bahan pelajaran sebelurnnya sesuai dengan patokan yang diterapkan, dan sebaliknya
Pendekatan Strategi Belajar Tuntas
Dengan pendekatan strategi belajar tuntas dimaksudkan cara bagaimana majunya para siswa, setelah siswa menyelesaikan setiap pokok bahasan. Ada dua pendekatan yang dapat ditahukan, yaitu:
1.      Belajar Tuntas dengan Pendekatan Seluruh Kelas (BTD PSK). Pada pendekatan ini siswa boleh pindah dan pokok bahasan satu ke pokok bahasan berikutnya, setelah 85% populasi kelas mencapai taraf penguasaan 75%. Ini berarti bahwa majunya para siswa bersama-sama.
2.      Belajar Tuntas dengan Pendekatan Secara Individual (BP - DPSI)
Pada pendekatan ini setiap siswa yang telah mencapai taraf penguasaan 57% dapat dipindah dari satu pokok bahasan, ke pokok bahasan berikutnya, tanpa menanti siswa lain. Ini berarti bahwa majunya para siswa secara individual termasuk kerugian.[13]
Keunngulan dan Kelemahan Teori Belajar Tuntas
Strategi belajar mengajar tuntas mengandung beberapa kelemihan dan kelemahan, salah satu kelebihanya, antara lain:
  1. Strategi ini sejalan dengan pandangan psikologi belajar modern yang berpegang pada prinsip perbedaan individual, belajar kelompok.
  2. Strategi ini memungkinkan siswa belajar lebih aktif sebagaimana disarankan dalam konsep CBSA yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dir sendiri, memecahkan rrasalah sendiri dengan menemukan dan bekerja sendiri.
  3. Dalarn strategi ini guru dan siswa diminta bekerja sama secara partisipatif dan persuasif, baik dalam proses belajar maupun dalam proses bimbingan terhadap siswa lainnya.
  4.  Strategi mi berorientasi kcpada peningkatan produktivitas hasil belajar, yakni siswa yang menguasai bahan pelajaran secara tuntas, menyeluruh, dan utuh.
  5. Pada hakikatnya, strategi ini tidak mengenal siswa yang gagal belajar atau tidak naik kelas karena siwa yang ternyata mendapat hasil yang kurang memuaskan atau masih di bawah target hasil yang diharapkan, terus-menerus dibantu oleh rekannya dan oleh guru.
  6. Penilajan yang dilakukan terhadap kemajuan belajar siswa mengandung unsur objektiyitas yang tinggi sebab penilaian dilakukan oleh guru, rekan sekelas, dan oleh diri sendiri dan berlangsung secara berlanjut serta berdasarkan ukuran keberhasj1an (standar perilaku) yang jelas dan spesilik.
  7. Pengajaran tuntas berdasarkan suatu perencanaan yang sistemik, yang memiliki derajat kohrensi yang tinggi dengan Garis-garjs Besar Program Pengajaran Bidang Studi.
  8. Strategi ini menyediakan waktu belajar yang cukup sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-inasng individu siswa sehingga rnemungkinkan mereka belajar secara lcbih leluasa.
  9. Strategi mi mengaktifkan guru-guru sebagai suatu regu yang harus bekerja sama secara efektif sehingga kelangsungan proses belajar siswa dapat terjamin dan berhasil optimal.
  10. Strategi belajar tuntas berusaha mengatasi kelernahan yang terdapat pada strategj  belajar mengajar lalnnya, yang berdasarkan pendekatan kelas saja, atau kelompok saja, atau individual[14]
Strategi pengajaran tuntas juga mengandung beberapa kelemahan, antara lain:
  1. Guru-guru umumnya masih mengalarni kesulitan dalam membuat perencanaan belajar tuntas karena harus dibuat untuk jangka satu semester di samping penyusunan satuan satuan pelajaran yang Iengkap dan menyeluruh
  2. Strategi ini sulit dalam pelaksanaannya karena melibatkan berbagai kegiatan, yang berarti menuntut macam-macan kemampuan yang memadai.
  3. Guru yang sudah terbiasa dengan cara lama akan mengalami hambatan untuk menyelenggarakan strategi ini yang relatif lebih sulit dan masih baru
  4. Strategi ini tentu meminta berbagai fasilitas, perlengkapan, alat, dana, dan waktu yang cukup besar. Sedangkan sekolah kita umumnya masih langka dalam segi sumber teknis seperti yang diharapkan.
  5. Diberlakukanya sistem ujian EBTA dan Ebtanas yang menuntut penyelenggaran program bidang studi pada waktu yang sudah ditetapkan dan usaha persiapan para siswa untuk menempuh ujian, mungkin menjadi faktor salah satu unsur penghambat pelaksanaan belajar tuntas yang diharapkan.
  6. Untuk melaksanakan teori ini yang mengacu kepada penguasaan materi  belajar secara tuntas pada giliaranya menuntut para guru agar menguasai materi secara luas, menyeluruh dan lebih lengkap. Hal ini menuntut para guru belajar labih banyak dan menggunakan sumber-sumber yang lebih luas.[15]
Kesimpulan
 Pembelajaran tuntas adalah pola pembelajaran yang menggunkan prinsip ketuntasan secara individual. Dalam hal pemberian kebebesan belajar, serta untuk mengurangi kegagalan peserta didik dalam belajar, strategi belajar tuntas menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal) tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan individu siswa sedemikian rupa.
 Dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal.Dasar dasar pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual ialah adanya pengakuan terhadap perbedaan individual massng-masing peserta didik.
Daftar Pustaka
Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Balajar Mengajar, (Jakarta, PT: Bumi Aksara,2005).
Ali Muhammad, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, ( Bandung, CV. Sinar Baru Offset,1987).
Suryosubroto B, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakata, PT: Rineka Cipta,2009).
Mulyono , Strategi Pembelajaran, (Malang, UIN-Maliki Press,2001) hal, 56-57
Mulyasa E, Implementasi kurikulum 2004, (Bandung, PT: Remaja Rosdakarya,2009) hal,239240
Hamalik Oemar , Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA, (Bandung, CV. sinar baru,1991).



[1] Penulis adalah mahasiswa program pascasarjana STAIN pamekasan.
[2] Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Balajar Mengajar, (Jakarta, PT: Bumi Aksara,2005) hal 35
[3] Ibid.,35
[4] Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, ( Bandung, CV. Sinar Baru Offset,1987) hal.98
[5] B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, (Jakata, PT: Rineka Cipta,2009) hal,100
[6]Mulyono , Strategi Pe,Belajaran, (Malang, UIN-Maliki Press,2001) hal, 56-57
[7] Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, ( Bandung, CV. Sinar Baru Offset,1987) hal,96
[8] B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, (Jakata, PT: Rineka Cipta,2009) hal,83
[9] Ibid.,84-85
[10] Ibid.,87
[11] Ibid,88
[12] E. Mulyasa, Implementasi kurikulum 2004, (bandung, pt: remaja rosdakarya,2009) hal,239240
[13] B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, (Jakata, PT: Rineka Cipta,2009) hal, 103
[14] Oemar Hamalik, Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA, (Bandung, CV. sinar baru,1991) hal. 86
[15] Ibid., 87-89

Tidak ada komentar:

Posting Komentar